SALAH satu momentum religius penting dalam syariat agama Islam adalah bulan Ramadan. Kehadirannya menjadi dambaan bagi seluruh kaum muslimin. Beragam nuansa aktivitas ibadah dan amaliah kental mewarnai bentangan satu bulan yang diyakini membawa banyak keistimewaan. Terlebih, di bulan ini umat Islam diwajibkan melaksanakan syariat ibadah puasa, sebagai bagian persyaratan yang mutlak harus ditempuh untuk mencapai predikat takwa, sebuah derajat kemanusiaan yang paling mulia dan tinggi di sisi Allah swt (QS Al-Baqarah: 183).

Selain itu, puasa merupakan sebuah manifestasi konkret penghambaan manusia, makhluk yang diciptakan paling sempurna, kepada Sang Khalik. Sebuah medium yang menjembatani kelemahan insani dengan kemahabesaran Ilahi. Karena begitu fundamentalnya ibadah puasa ini, Islam menempatkannya sebagai salah satu pilar dari lima rukun Islam.



Ibadah puasa Ramadan memiliki keutamaan paling strategis di sisi Allah, karena mengenai ibadah ini Allah secara khusus memberikan jaminan kepada siapa-pun hamba-Nya yang menjalankan ibadah puasa. Puasa menempati posisi istimewa di sisi Allah. Lantaran keistimewaannya inilah, Allah sendiri yang akan memberikan balasan. Sebuah hadis menyatakan, “...kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu diperuntukkan bagi-Ku, maka Aku sendirilah yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makan hanya karena Aku.”

Tujuh Pesan Ramadan

Pada dasarnya, ada begitu banyak pesan yang terkandung dalam Ramadan. Menurut banyak referensi dari Alquran dan hadis, pesan-pesan tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan dan rahmat. Ubadah bin Sahmit menceritakan ketika Ramadan tiba, Rasulullah bersabda, “Ramadan telah datang pada kalian, bulan yang penuh dengan keberkahan pada bulan itu Allah akan memberikan naungan-Nya dan akan menurunkan rahmat-Nya, dihapuskan-Nya kesalahan-kesalahan dan dikabulkan-Nya doa-doa. Pada bulan itu Allah akan melihat kalian pada bulan itu berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah akan membanggakan kalian di depan para malaikat. Maka, perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya, orang yang celaka pada bulan itu adalah mereka yang tidak mendapatkan rahmat dari Allah Azza Wajalla.” (HR Thabrani).

Kedua, Ramadan sebagai bulan ampunan Allah. Sesungguhnya, tidak ada orang suci dan tidak berdosa, karena itu kesempatan memohon ampun kepada Allah atas dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan pada bulan ini terbuka sangat lebar. Kesempatan itu sejatinya kita menjaga dan memanfaat peluang untuk memohon pengampunan itu dengan baik dan maksimal.

Rasulullah bersabda, “Antara salat lima waktu, dari salat jumat ke salat jumat berkutnya, dari Ramadan ke Ramadan, adalah penghapus dosa-dosa di antaranya jika dosa-dosa besar dihindari.” (HR Muslim). Pada kesempatan lain, dijelaskan ketika Ramadan pintu-pintu surga dibukalebarkan dan pintu-pintu neraka ditutuprapatkan.

Ketiga, Ramadan sebagai bulan perjuangan. Maksudnya, pada Ramadan idealnya setiap mukmin dikondisikan pada sebuah “medan peperangan” yang paling besar, yaitu perang melawan hawa nafsu. Sebagaimana penjelasan Rasulullah, bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan jihad besar. Tidak hanya melawan hawa nafsu yang bersifat biologis semata seperti makan, minum, dan nafsu seksual. Akan tetapi, jauh melampaui itu, yaitu nafsu-nafsu yang bersifat nonbiologis, seperti marah, dengki, menggunjing, dan segala kecenderungan yang berpotensi mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala dan nilai puasa yang kita lakukan.

Pada tahap akhir perjuangan ini dapat ditentukan apakah seseorang akan mampui mengontrol, mengendalikan, dan mengalahkan hawa nafsunya ataukah sebaliknya ia yang justru akan diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. Pada dasarnya urgensi puasa merupakan bentuk pengendalian hawa nafsu, khususnya nafsu yang mengarah pada keburukan.

Keempat, Ramadan sebagai bulan pelatihan. Selama satu bulan penuh, setiap mukmin ditempa dan dilatih untuk memiliki kualitas kejiwaan yang jujur, sabar, bertanggung jawab, dan amanah, baik kepada diri sendiri, orang lain, terlebih kagi kepada Allah. Ramadan juga merupakan media pelatihan jiwa. Setiap orang yang berpuasa diharapkan memiliki solidaritas dan kepekaan pada sesama.

Para shaimin akan dapat merasakan bagaimana rasanya lapar, yang otomatis mengingatkan kita akan realitas sosial bahwa begitu banyak saudara-saudara kita yang secara ekonomi kurang beruntung. Maka itu, dengan Ramadan kita diharapkan bisa berbagi dengan sesama dengan memperbanyak sadakah dan infak, di samping diwajibkan membayar zakat fitrah pada hari-hari akhir Ramadan.

Kelima, Ramadan merupakan bulan pelipatgandaan pahala. Pada bulan ini amal dan ibadah seseorang yang ikhlas dan semata-mata karena Allah akan dilipatgandakan pahalanya dengan tidak terbatas. Hal ini tidak akan ditemui pada bulan-bulan lain sepanjang tahun. Rasulullah menjelaskan, ”Setiap amal anak Adam akan mendapatkan kebaikan sepuluh kali lipat sampai dengan tujuh ratus kali lipat”.

Dalam riwayat lainnya disesebutkan barang siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan sebuah kebaikan, nilai pahalanya akan sama dengan amalan wajib pada bulan lain. Barang siapa yang menjalankan amalan wajib, nilainya seperti tujuh puluh kali lipat pada bulan lain.

Keenam, Ramadan merupakan bulan ketika pertama kali diturunkannya Alquran. Alquran sebagai kitab suci yang menjadi pegangan umat Islam, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, “Bulan Ramadan, bulan yang didalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut, dan pembeda antara yang baik dan yang batil” (QS. Al-Baqarah: 185). Hikmah implisit yang terkandung dalam pesan ini adalah agar setiap mukmin membaca ayat-ayat Allah, baik yang bersifat tertulis atau tidak tertulis.

Ketujuh, Ramadan sebagai bulan yang di dalamnya terdapat lailatulkadar, suatu malam yang diliputi dengan kemahabesaran dan keagungan Allah, malam ini ditamsilkan sebagai satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Turun pada malam itu para malaikat dengan perintah Tuhannya untuk mengatur segala urusan dan malam itu penuh dengan kesejahteraan hingga terbit fajar (QS Al-Fajr: 1—5)

Dengan memahami berbagai pesan yang tersirat maupun tersurat dalam bulan Ramadan, seyogianya kita membumikan pemahaman tersebut dalam implementasi pengamalan secara kafah, bukan hanya pada hal-hal transedental ketuhanan, melainkan juga pada realitas sosial empirik. Insya Allah.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR