SALAH satu cara yang diyakini pemerintah dapat meningkatkan pendapatan adalah sektor pariwisata. Kedatangan wisatawan dapat menggerakkan perekonomian masyarakat. Sebab itu, setiap daerah akan berjuang untuk meningkatkan kedatangan wisatawan ke daerahnya. Keadaan alam, flora-fauna, serta peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni, dan budaya yang dimiliki Indonesia merupakan sumber daya dan modal pembangunan kepariwisatawan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Setiap tahun, pada 12 Desember diperingati sebagai Hari Bhakti Transmigrasi Nasional. Seperti yang kita ketahui, Kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung adalah tempat lokasi pertama tujuan kolonisasi (transmigrasi), yang dilaksanakan Pemerintah Hindia Belanda pada awal 1900-an. Dalam catatan sejarah, pelaksanaan pemindahan kolonisasi pertama adalah sejumlah 155 kepala keluarga yang pada November 1905 meninggalkan Jawa menuju ke Gedongtataan, Lampung. Pemerintah Hindia Belanda menugaskan Asisten Residen HG Heyting untuk memimpin tugas tersebut.



Di tempat tujuan, pembangunan desa di lokasi kolonisasi ditangani langsung asisten residen, yang membangun desa baru di lokasi kolonisasi menurut pola dari daerah asalnya di Jawa. Segala sesuatunya diatur, termasuk struktur pemerintahannya dengan adanya kamituo, lurah, dan asisten wedana. Pengaturan ini berlainan dengan struktur pemerintahan masyarkat sekitarnya yang merupakan masyarakat adat. Selain itu, sistem pertaniannya pun berbeda. Jadi, daerah kolonisasi dapat dikatakan adalah enklave sosial dan politik.

HG Heyting saat bertugas dibantu Asisten Wedana Ronodirejo dari Kutoarjo. Mereka mengatur penduduk asal Jawa yang utamanya berasal dari Kabupaten Karanganyar, Kebumen, dan Purworejo di Keresidenan Kedu. Pada akhir cerita, desa kolonisasi pertama ini diberi nama Bagelen, sesuai dengan kabupaten asal mereka yang berada di daerah Bagelen.

Peninggalan cerita sejarah kolonisasi tersebut sangatlah berharga. Bahkan, dapat dijadikan modal untuk mengembangkan pariwisata transmigrasi di Pesawaran. Pemerintah daerah dapat mengembangkan kawasan yang masuk wilayah Desa Bagelen itu menjadi kawasan strategis parawisata. Kawasan itu memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata.

Pengembangan Wilayah

Desa Bagelen yang secara administratif berada di Gedongtataan untuk selanjutnya dapat ditata wilayahnya secara khusus dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, keadaan alam, lingkungan, sumber daya, dan keadaan masyarakatnya. Keberadaan Museum Nasional Transmigrasi dapat dijadikan paket lengkap wisata di Desa Bagelen sebagai daerah tujuan pariwisata.

Pengembangan Bagelen secara keseluruhan harus diintegrasikan dengan rencana induk pengembangan kepariwisataan daerah di Pesawaran secara keseluruhan. Pesawaran yang sedang mengandalkan destinasi di sektor kelautan, pulau, dan pantai sebagai andalan daerah tujuan wisata dapat menjadikan pengembangan pariwisata transmigrasi menjadi alternatif pelengkap paket wisata kunjungan.

Salah satu bentuk kongkret pengembangan kawasan ini adalah Pemkab Pesawaran dapat menetapkan Bagelen menjadi desa wisata. Program ini adalah sesuai dengan rencana pembangunan wisata Pemerintah Pusat yang dapat dilaksanakan di Pesawaran. 

Pengelolaan dan Dampak

Pemda berkewajiban memelihara, mengembangkan, dan melestarikan aset nasional yang menjadi daya tarik wisata dan aset potensial yang belum tergali maksimal. Selain itu, pemda berkewajiban mengalokasikan anggaran kepariwisataan yang tepat sasaran. Selanjutnya, pemda adalah pihak yang paling berwenang mengatur penyelenggaraan dan pengelolaan kepariwisataan di wilayahnya dalam rencana induk kepariwisataan daerah.

Cerita sejarah kolonisasi di Gedongtataan adalah fakta sejarah yang tidak dapat berubah. Fakta sejarah ini adalah modal utama untuk menyelenggarakan pembangunan pariwisata transmigrasi di daerah ini. Pengembangan pariwisata transmigrasi ini tentunya harus diiringi dengan rencana induk kepariwisataan dan skema penganggaran yang realistis.

Dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal dapat dikategorikan menjadi delapan kelompok besar (Cohen, 1984), yaitu dampak terhadap penerimaan devisa, terhadap pendapatan masyarakat, terhadap kesempatan kerja, terhadap harga-harga, terhadap distribusi manfaat, terhadap kepemilikan dan kontrol, terhadap pembangunan pada umumnya, dan terhadap pendapatan pemerintah.

Dengan penilaian dan persepsi stakehorders, pengelompokan berbagai dampak yang ada ke dalam dampak positif dan negatif. Di antara dampak positif adalah pembangunan budaya dan modernisasi, pertukaran sosial, perubahan sosial, peningkatan citra masyarakat lokal, peningkatan kesehatan masyarakat, peningkatan fasilitas sosial, pendidikan, pelestarian budaya, dan perubahan politik ke arah yang lebih baik.

Sementara yang termasuk biaya sosial atau dampak negatif antara lain kehancuran budaya lokal, tercerabutnya budaya lokal, ketidakstabilan sosial, konsumerisme, perubahan dalam hukum dan keteraturan sosial, komersialisasi hubungan antarmanusia, perubahan nilai-nilai tradisional, dan ketidakstabilan politik. 

Kearifan Lokal dan Promosi 

Keberadaan Bagelen adalah suatu fenomena menarik. Sebab, setelah satu abad lebih, percampuran sosial budaya yang terjadi antara masyarakat lokal dan pendatang berlangsung secara alamiah. Dalam kehidupan masyarakat tersebut, terdapat nilai-nilai sosial yang membentuk kearifan lokal dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hadirnya kearifan lokal ini tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai religi yang dianut masyarakat adat setempat. Kearifan lokal merupakan modal sosial pendukung utama pembangunan kepariwisataan. Modal sosial yang kuat akan merangsang pertumbuhan berbagai sektor ekonomi karena adanya tingkat rasa percaya yang tinggi dan kerekatan hubungan dalam jaringan yang lebih luas tumbuh di antara lapisan masyarakat.

Kearifan lokal sebagai modal sosial bagi pemberdayaan masyarakat memerlukan upaya menguatkan kelembagaan, prasarana, dan akses kepada informasi dan perlu dikembangkan optimal dan menjadi urutan atas dalam skala prioritas. Sikap hidup dan kerja sama untuk kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama merupakan bentuk kearifan lokal yang perlu terus ditumbuhkan (Ujianto Singgih, 2013: 58—59 dan 60).

Berbagai hal yang ada di Bagelen adalah aset yang berharga. Informasi tentang keunikan tersebut perlu disebarluaskan kepada masyarakat. Hal penting dilakukan adalah melakukan serangkaian kegiatan promosi. Dalam rangka menyebarluaskan informasi itu, pemda dapat mengembangkan dan mengelola sistem informasi kepariwisataan sesuai dengan dan kondisi daerah. Sistem informasi kepariwisataan digunakan untuk mendukung pengembangan dunia usaha pariwisata yang kompetitif.

Selain itu, pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan pengusaha pariwisata, asosiasi usaha pariwisata, asosiasi profesi, dan asosiasi lain yang terkait pariwisata. Selain kerja sama dengan asosiasi di bidang pariwisata, dapat pula dilaksanakan kerja sama dengan perguruan tinggi untuk meningkatkan bidang keilmuan.

Promosi adalah salah satu bentuk pendekatan kepada penikmat pariwisata. Pendekatan ini menaruh perhatian pada hubungan host-guest serta mengaitkannya dengan teori-teori etnisitas dan hubungan antaretnis ataupun dampak-dampak yang timbul terkait dengan identitas etnis.

Selain pendekatan, promosi juga erat kaitannya dengan menarik motivasi wisatawan, dalam hal ini adalah motivasi budaya, yaitu keinginan untuk mengetahui adat, budaya, tradisi, dan kesenian daerah lain. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk membantu pengembangan Pariwisata Transmigrasi di Bagelen, Gedongtataan, Pesawaran. Sebab, lokasi ini adalah tempat kolonisasi pertama di dunia.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR