PEKIK kemerdekaan tahun 1945 meninggalkan jejak-jejak sejarah pada bangsa ini. Slogan-slogan heroik menyertai seiring dengan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satu slogan heroik itu adalah “Merdeka atau Mati!” yang tidak ada data pasti siapa memekikkan pertama slogan tersebut. Sebagian orang mengatakan itu adalah pekik Bung Tomo melalui radio Surabaya untuk membakar semangat para pejuang kemerdekaan pada peristiwa 10 November 1945.

Seiring perjalanan waktu, ternyata slogan itu sekarang hanya ada di film zaman dulu, yang sering disebut film perjuangan. Di dunia nyata, kata-kata itu hanya menghias mural yang ada di bawah jembatan penyeberangan atau tembok-tembok pagar bangunan umum untuk penghias perayaan hari ulang tahun kemerdekaan.



Pada satu kesempatan, ada seorang teman yang mengenyam pendidikan akhirnya di Amerika Serikat. Begitu ditanya, “Merdeka atau mati?”, spontan teman tadi menjawab, “Saya memilih atau!” Ini menunjukkan bagaimana kebebasan berpikir dan berekspresi pada semua orang Indonesia terhadap lambang atau simbol yang ada dalam masyarakat.

Kondisi ini menjadikan panduan lambang yang menarik untuk dikaji jika pilihan-pilihan itu memberikan respons jawaban. Apakah jawaban-jawaban itu merupakan ekspresi dari sesuatu keadaan untuk masa kini. Pertanyaan ini tentu perlu kajian mendalam, lantaran kondisi dan situasi saat ini begitu cepatnya berubah.

Pilih Merdeka

Pilihan tersebut adalah pilihan rasional yang selama ini memang hidup di tengah masyarakat. Bahkan, nilai-nilai kemerdekaan itu justru pilihannya ada pada merdeka. Pekik ini sekarang menjadi normatif dan nostalgik, terutama bagi mereka generasi now. Mereka memahami pekik merdeka sebagai hasil proses kognisi dalam mempelajari sejarah, sedangkan “rasa” pekik merdeka itu sudah sayup-sayup mencapai dawai rasa.

Pendidikan sejarah untuk era zaman now menjadi begitu sulit. Sebab, selama transfer of knowlage menjadi andalan, tujuan pembelajaran akan semakin jauh dari harapan. Sementara, menghadirkan suasana sejarah di muka kelas adalah pekerjaan yang tidak mudah bagi guru-guru. Sebab, diperlukan perangkat lunak dan perangkat keras serta aliran listrik yang memadai. Di sisi lain, persepsi yang terbangun selama ini ialah pelajaran sejarah tidak menjanjikan apa-apa pada peserta didik. Karena itu, diberi nilai lulus saja sudah cukup.

Kondisi ini diperparah lagi dengan diberlakukannya ukuran nilai ujian akhir yang memosisikan sejarah merupakan gabungan dengan kelompok Ilmu Pendidikan Sosial (IPS) sebagai rumpun besar. Semakin lengkap bahwa pemahaman sejarah ukurannya menjadi kognitif sekali, sehingga afeksi terhadap perjuangan kebangsaan dalam mendirikan negara ini semakin jauh dari harapan. Munculnya sikap radikalisme dan sikap kelompok sendiri yang paling benar merupakan salah satu wujud kegagalan dalam menanamkan nilai-nilai kesejarahan dalam proses pembelajaran.

Pilih Mati

Bentuk dari pilihan ini bukan dimaknai sebagai sesuatu yang konkret, tetapi lebih kepada “kematian abstrak”. Maksud dari yang terkandung pada ungkapan tadi adalah cermin ketidakberdayaan terhadap kondisi saat ini. Bentuk konkretnya bisa saja di antaranya rendahnya partisipasi saat pemilihan, baik itu tingkat daerah maupun pusat.

Ada semacam sikap yang tumbuh semakin jauh dari kebutuhan primer dari yang bersangkutan, sehingga sikap partisipasi yang ditampilkan akan semakin rendah. Ini dapat kita lihat pada waktu pemilihan ketua RT. Dapat dikatakan, partisipasi warga bisa mencapai 100 persen. Begitu pemilihan kepala desa, tingkat partisipasinya mulai turun. Dan, ini akan terus menurun pada pemilihan kepala daerah sampai pemilihan presiden.

Sikap lebih baik tidak ikut memilih kalau nanti yang dipilih korupsi merupakan dosa secara agama. Maka, sikap “mati” menjadi pilihan terbaik menurut kelompok ini. Hal yang menarik, mereka tidak mengajak orang lain, tetapi kelompok yang mengambil pilihan ini tampaknya semakin besar.

Berdasarkan pengamatan di lapangan saat pemilihan gubernur yang baru lalu, individu-individu yang memosisikan pada wilayah ini semakin banyak, terutama didominasi generasi mapan dari segi penghasilan. Mereka lebih merasa sudah enak di zona nyaman yang mereka bangun dengan susah payah selama ini.

Pilih Atau

Seperti telah disinggung sebelumnya, pilihan pada “atau” adalah pilihan aman untuk melihat mana yang lebih memberi kontribusi pada dirinya itu merupakan pilihannya. Pilihan atau adalah sikap “tunggu dan lihat” yang dicerminkan individu atau kelompok dalam menyikapi sesuatu.

Bisa saja, alasan kehati-hatian menjadi pengesahan keberadaan pilihan pada zona ini. Namun, bisa juga merupakan cerminan dari sikap untuk tidak mau mengambil risiko. Adapun batasan risiko di sini luas dan kompleks, bisa saja risiko itu bersifat personal atau lebih pada institusional, semua berpulang kepada si pengambil sikap.

Pilihan “atau” sering juga dimaknai sebagai kelompok “massa mengambang” dalam konteks sosiologi politik. Pada saat situasi politik seperti sekarang ini, kelompok ini menjadi medan garapan yang menantang bagi peraih suara. Upaya-upaya pendekatan rasional bahkan nonrasional dilakukan untuk menyeret kelompok ini.

Akan tetapi, sejatinya kelompok ini memiliki tingkat independensi yang tinggi, sehingga hati-hati untuk menentukan pilihan. Apa pun bentuk pilihan yang mereka pilih merupakan hasil kalkulasi rumit dan lama, karena kegagalan merupakan peristiwa fatal yang harus mereka hindari.

Berdasarkan uraian itu, secara keseluruhan dapat kita cermati bahwa pergeseran sosial terus terjadi dalam kehidupan bernegara di negara tercinta ini. Envolusi dan evolusi sosial sekarang sedang berlangsung bersamaan. Sebab itu, kita sering dihadapkan dengan peristiwa sosial, baik langsung maupun melalui media sosial, sesuatu peristiwa sosial yang berlangsung berubah terus dan cenderung diluar perkiraan (unpredectible).

Perubahan-perubahan itu yang semula sejalan bisa di perjalanannya menjadi bertentangan, bahkan saling menghancurkan. Ada juga yang di awal peristiwa seolah berhadapan bahkan konflik, tetapi di tengah perjalanan justru menjadi solid dan searah.

Pada kondisi sosial seperti saat ini, yang ditandai dengan mulainya pencalonan presiden untuk periode depan, tampaknya magma sosial menunjukkan peningkatan suhunya. Peristiwa sosial apa pun akan ada upaya untuk mengaitkannya dengan peristiwa utama, yaitu pemilihan presiden.

Mereka yang akan merasakan dampak kenaikan suhu sosial menjelang peristiwa berlangsung adalah rakyat jelata. Posisi tawar mereka menjadi bahan bahkan sasaran dari para pelakon sosial yang sedang memerankan peran sosial tertentu di tengah masyarakat. Jargon politik, pelintiran berita politik, blow-up peristiwa politik, dan hal lain yang menguntungkan para pelakon politik akan menjadikan bahan untuk diolah sedemikian rupa sehingga menjadi amunisi politik.

Menurut teori piramidal kurban manusia karya Peter Berger, memang struktur sosial yang bersifat piramid selalu memosisikan bagian bawah akan menopang bagian atasnya dan bagian bawah akan menanggung beban bagian atas akibat penopangan tadi.

Aksioma Peter Berger jika digunakan untuk menganalisis peristiwa sosial saat ini memiliki kebenaran yang sahih. Oleh karena itu, ada pikiran-pikiran konfrontatif yang muncul dengan slogan “Salahnya Jadi Rakyat”, “Jangan Mau Jadi Rakyat”, “Risiko Jadi Rakyat”, dan masih banyak lagi yang terkadang ekstrem, yang tampaknya perlu diwaspadai jika itu berkembang menjadi radikal.

Ulang tahun kemerdekaan kali ini tampaknya kita berada pada situasi yang berbeda dibandingkan dengan ulang tahun kemerdekaan masa sebelumnya. Suhu politik yang meninggi mengakibatkan iklim sosial juga menjadi naik. Untuk itu, diperlukan sikap hidup yang arif bijaksana. Sebab, apa pun peristiwanya, kita tetap harus Indonesia.

Negara ini kita bangun tidak dalam sekejap, tetapi bisa rusak hanya dalam sekejap. Karena itu, siapa pun kita, apa pun perbedaan politik kita, apa pun perbedaan pilihan kita, tetapi kita tetap berada dalam satu rumah besar yaitu Indonesia. Merdeka!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR