SEJUMLAH mahasiswa Indonesia di Jepang jualan daging halal. Mereka tidak pasang iklan di media, tapi hanya menulis di dinding mobil boks mereka siap melayani pesanan daging halal dan memasang nomor teleponnya.

Hanya dengan membawa mobil itu keliling Nagoya dan sekitarnya, mereka sambil jalan itu sudah menerima pesanan yang tidak habis mereka antar sampai tengah malam. Itu menunjukkan produk halal di mancanegara punya pasar yang baik.



Karena itu, wajar kalau gagasan Kepala Cabang Bank Kaltimtara Syariah Balikpapan Erlyta Aryani, kami petik di sini. Menurut dia, untuk memperluas pangsa perbankan syariah hingga mencapai dua digit dalam perbankan nasional, salah satu caranya adalah dengan mendorong prakarsa perbankan syariah memacu ekspor produk halal Indonesia. (Kompas.com, 8/4/2019)

Itu gagasan luar biasa. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, kaya dengan aneka produk halal yang bisa diekspor. Tapi harus diakui, literasi tentang produk halal dan bidang ekspor-impor dalam masyarakat kita masih relatif rendah. Produk halal saja bagi kebanyakan orang hanya bersandar pada label halal MUI.

Namun, gagasan memacu ekspor produk halal untuk mendongkrak pangsa perbankan syariah itu kini mendapatkan momentum yang sangat bagus. Indonesia, Selasa (9/4), terpilih sebagai peringkat pertama wisata halal dunia versi Mastedcarrd-Cresent Rating Global Muslim Travel Index 2019. (detik-travel, 9/4)

Dengan posisi peringkat pertama wisata halal dunia itu, produk halal Indonesia tergandeng dalam implementasinya. Salah satu komponen penting dalam wisata halal adalah kuliner halalnya. Kuliner yang hadir dalam pariwisata halal Indonesia sekaligus merupakan representasi dari produk halal Indonesia.

Namun, untuk memacu produk halal itu masih perlu melakukan pembinaan terhadap para pelaku bisnisnya.

Sejalan dengan efek ganda ekspor produk halal bagi perbankan syariah, pembinaan pengusaha ekspor tersebut juga merupakan tantangan bagi perbankan syariah yakni tampil menjadi maecenas ekspor produk halal. Harus hadir sebagai maecenas komplet, melakukan edukasi produksi untuk mencapai standar ekspor, mendanai programnya, sampai menarik devisa hasil ekspornya.

Tampak, untuk lebih cepat mencapai pangsa dua digit dalam perbankan nasional, perbankan syariah tidak cukup hanya terima bersih bagi hasil dalam pelayanannya. Tetapi, juga harus bagi tugas yakni tugas pembinaan bagi kompetensi produsen. 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR