KENAIKKAN harga beragam kebutuhan selalu terjadi menjelang bulan puasa Ramadan. Kali ini harga bumbu-bumbuan yang melejit dan dikeluhkan masyarakat selaku konsumen. Bawang putih misalnya, jika sebelumnya berada di kisaran Rp25 ribu per kilo, kini harganya naik nyaris dua kali lipat menjadi Rp45 ribu lebih per kilo. Kenaikan ini pun memicu inflasi.

Kenaikan harga ini harus dikendalikan, meskipun tidak mengabaikan stok dan kebutuhan (supply and demand). Upaya menekan harga bawang putih pun pemerintah membuka impor. Tahun ini, Kementerian Perdagangan (Kemendag) diketahui telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) bawang putih sejumlah 115.765 ton kepada 8 perusahaan importir swasta, tidak termasuk Bulog. Dengan impor ini akan dibuka operasi pasar bawang putih, sehingga masyarakat bisa mendapatkan harga bawang dengan tidak terlalu tinggi.



Sejatinya, impor bukanlah solusi jangka panjang dari kenaikan harga bawang putih ini. Impor merupakan solusi jangka pendek untuk penstabilan harga agar tidak jadi gejolak di masyarakat yang juga berpotensi memicu inflasi tinggi.

Memang kenaikan harga selalu terkait dengan supply and demand. Seharusnya kalau dari sisi pemerintah, tentunya pemerintah sudah menghitung supply-demand, kapan pemberian rencana izin impor. Ketika meleset, ada potensi terjadi kenaikan harga.

Pemerintah harus memikirkan solusi jangka panjang dan melepas ketergantungan impor. Misalnya dengan membuat lumbung penghasil bawang. Kalau Berebes menjadi sentra penghasil bawang merah, harus ada pula daerah lumbung bawang putih. Selain itu, harga juga harus dipantau agar tak terjadi fluktuatif harga yang tinggi dan petani memiliki tingkat kepercayaan terhadap komoditas yang ditanam.

Langkah Direktur Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian, yang menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada bawang putih pada akhir 2021 harus didukung semua pihak. Sebab, saat ini kita masih mengandalkan impor bawang putih sebesar 95% kebutuhan.

Ironis memang, di negeri yang amat subur ini, ternyata bawang putih masih harus diimpor. Percepatan perluasan tanam bawang putih menjadi solusi untuk memecah candu impor.

Sejak 2018 ketika Kementerian Pertanian menggalakkan penanaman 11 ribu hektare lahan untuk benih bawang putih. Pada 2019, jumlahnya akan ditambah menjadi sekitar 20 hingga 30 hektare. Dan terus berlanjut hingga 2021 dengan target luas lahan bawang putih menjadi 100 ribu hektare. Luasan ini menjadi target swasembada bawang putih bisa tercapai.

Tak hanya produksi yang digenjot, tata niaganya pun harus dibenahi, sehingga tak membuat petani merugi dan bisa tenang menanam komoditas bumbu utama masakan ini.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR