Jakarta (Lampost) -- Tak sedikit orang yang menunjukkan kebahagiaan di media sosial namun mengalami hal sebaliknya dalam dunia nyata.

"Sangat mudah untuk menyamarkan gejolak batin seseorang melalui profil media sosial yang mengilap karena platform ini, menurut sifatnya, menipu," jelas Marc Hester, konsultan psikolog klinis di The Summit Clinic di London Utara.



Menurutnya, sangat sulit untuk mengetahui apakah orang lain di media sosial merasa baik, tidak senang atau tertekan.

Tak hanya penyangkalan kepribadian, media sosial juga menghalangi seseorang untuk mencari bantuan untuk gangguan mental yang dideritanya.

Selain itu, mengunggah hal-hal menyenangkan saat sedang tidak melakukannya juga dapat memperparah kesepian, yang berpotensi semakin menghancurkan perjuangan seseorang melawan perasaan depresi atau kecemasan.

"Media sosial dapat memperbesar perasaan isolasi dalam masyarakat dimana orang lain tampak fantastis dan memiliki dan kehidupan yang hebat," jelas Hester.

"Ini bisa menjadi tempat di mana kita secara ajaib merasa lebih baik ketika ada yang menyukai unggahan kita, seperti memparadekan kebahagiaan."

Jika demikian, mengapa orang cenderung melakukannya? "Itu berasal dari kebutuhan untuk dilihat, terlihat sukses dan selalu menjadi sedikit lebih baik dari orang lain. Jadi itu bisa menjadi versi yang agak tidak otentik dari kehidupan nyata," tukas Helter.

Pemicu lainnya, karena tak ingin kehilangan citra tersebut dan berfungsi sebagai pelarian dari tekanan kehidupan sehari-hari, sehingga menciptakan "diri yang sempurna" versi daring.

Namun, dia memperingatkan bahwa perasaan puas ini hanyalah sesaat. Dikatakan demikian karena, ketika digunakan secara terpelajar, ada sejumlah manfaat yang dapat ditawarkan media sosial kepada seseorang yang berjuang melawan penyakit mental.

"Media sosial dapat memainkan peran yang bermanfaat dalam jaringan dukungan kami yang lebih luas," jelas Stephen Buckley, kepala informasi di badan amal kesehatan mental bernama Mind.

Dia menambahkan bahwa platform media sosial dapat bertindak sebagai saluran berbagi sumber daya dan menyuarakan pengalaman mereka jika mereka menginginkannya. Adapun cara untuk membantu, Buckley menyarankan menjaga keseimbangan antara aktivitas daring dan luring.

"Jika Anda merasa rentan atau menghabiskan terlalu banyak waktu di media sosial, mungkin perlu istirahat sejenak atau menyisihkan waktu setiap hari untuk melakukan sesuatu yang lain seperti membaca buku atau melakukan latihan fisik," dia menyarankan.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR