BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Saat ini pemakaian media sosial mengalami peningkatan pesat. Hal itu seiring aktivitas pelaku usaha dan masyarakat konsumen yang tinggi di media sosial untuk memasarkan produk dan mencari produk yang diinginkan. Salah satunya terjadi pada produk-produk makanan atau kuliner.

Hal itu terungkap dalam Pelatihan Wirausaha CCAI Seri 5 yang digelar Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) dan Harian Umum Lampung Post, Jumat (31/5/2019), di Coca-Cola Tanjungbintang.



Pelatihan yang mengangkat tema "Menjual Cita Rasa lewat Sosial Media" itu menghadirkan narasumber Liliyanti dan Agus Sani Kalim serta difasilitatori pengamat ekonomi Unila Asrian Hendi Caya.

Liliyanti, pelaku usaha di bidang makanan, mengatakan media sosial kini menjadi rujukan bagi masyarakat mencari makanan yang ingin dikonsumsinya sehingga pelaku usaha pun harus menggunakan media sosial sebagai media untuk memasarkan produk yang dibuatnya.

"Awal usaha saya hanya menjual kepada tetangga dan teman. Namun, sekarang pelaku usaha harus menyadari bahwa media sosial seperti Instagram memiliki peran penting dalam membantu penjualan produk yang kita buat," kata Lili yang menggunakan akun Instagram oven_emak untuk menjual produk makanan bakpau.

Menurut Lili, pelaku usaha makanan harus fokus terhadap produk pilihan yang ditawarkan kepada masyarakat dan tetap mengembangkan produk sehingga menjadi lebih baik dan variatif. Ia pun memberikan beberapa tips kepada pelaku usaha yang memanfaatkan media sosial sebagai tempat menjual produk makanan.

"Kreativitas dalam mengirim konten ke medsos, seperti foto produk dan testimoni pelanggan, memberikan promosi atau diskon produk, dan berkolaborasi dengan influencer," ujar Lili.

Agus Sani Kalim, pemilik akun Instagram Lampungkuliner, mengungkapkan sejak satu tahun terakhir perhatian masyarakat untuk mencari cita rasa baru di media sosial luar biasa. Begitu pun dengan pelaku usaha yang menawarkan produk makanan.

"Media sosial saya terbentuk sejak lima tahun lalu dan setiap hari memposting konten kuliner makanan. Produk kuliner yang saya posting paling banyak dari home industry atau industri rumah tangga, pelakunya mulai dari ibu-ibu sampai pelajar SMA," kata Domin, panggilan akrabnya.

Yuli, peserta pelatihan asal Tanjungbintang, menanyakan kepada narasumber terkait usaha piza mini miliknya yang hanya ramai dalam 3 bulan pertama. "Bagaimana agar penjualan usaha saya kembali meningkat," kata Yuli.

Menanggapi hal itu, Domin menjelaskan masyarakat Lampung memiliki selera konsumsi makanan yang berbeda, yakni senang mengonsumsi makanan-makanan yang unik. "Jadi pelaku usaha makanan perlu membuat variasi rasa baru dari makanan yang dibuat sehingga selalu ada menu baru dan aktif di media sosial. Di media sosial kita juga harus pandai menanamkan hastag-hastag," kata Domin.

Ia menambahkan media sosial seperti Instagram saat ini sangat membantu pelaku usaha makanan dalam mendapatkan konsumen karena menjadi referensi masyarakat untuk mencari makanan yang ingin dikonsumsi.

Yayan Sopian, CA Regional Manager West Indonesia CCAI, dalam pelatihan wirausaha itu mengatakan pelaku usaha kuliner saat ini menghadapi tantangan seiring kemajuan teknologi digital. "Kita mesti belajar dan selalu berkreativitas dalam menjalankan usaha ini. Kemudian mengikuti perubahan yang terjadi dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung kemajuan usaha yang dijalankan," kata Yayan.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR