BANDAR LAMPUNG (Lampost. co)--Potensi film lokal di Indonesia saat ini terus menunjukan geliat pasar industri yang kian menggairahkan, sehingga tidak heran jika banyak film-film berkualitas berangkat dari film lokal, atau film daerah. 

KO Produser Film Ziarah sekaligus Publisher Ridla Annur mengatakan bahwa banyak film yang bisa diambil dari film lokal, sehingga perkembangan film tidak hanya tersentral di Jakarta, banyak film dari daerah yang promosinya mengedepankan daerah. Tentu saja ini menjadi perkembangan positif bagi perkembangan film lokal.



"Film adalah sesuatu yang universal, setiap orang bisa mempelajari dan mengartikan film masing-masing, bahkan sampai saat ini film masih dijadikan alat propoganda, dan itu sah-sah saja," kata Ridla saat menjadi narasumber pada workshop dan screening film yang dilaksanakan di Asrama haji dari tanggal 1-3 Juli.
Menurutnya, kendala yang dihadapi para film maker berangkat dari daerah cukup beragam, tapi pada dasarnya punya kualitas yang baik, misalnya terbatas dengan kondisi seperti teknisi yang tidak bisa membohongi publik. " Teknisi ini bisa dipelajari dengan karya-karya berikutnya, terus diasah. Tidak patah semangat, tetap belajar dan terbuka menerima kritikan, dan saran dari masyarakat," saran Ridla
Dengan demikian, kedepan film lokal daerah akan banyak bermunculan, para filmaker banyak menuangkan keresahanya sendiri, dan semakin tahu kekayaan Indonesia.
"Film bukan sekadar media hiburan, tapi sebagai alat komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan," kata dia.
Sehingga komersil atau tidaknya sebuah film tergantung dari tujuan awal, sehingga tidak semua film bersifat komere. Misalnya membuat sebuah film dengan tujuan apresiasi, bisa dilihat sejak bisnis plan, bujet dan promosi film.
"Atau banyak juga membuat film untuk kebutuhan Festival, desain produksi juga akan berbeda," paparnya.
Dia berharap kemudahan akses teknologi, semakin banyak karya yang bisa dihasilkan, sehingga tidak berhenti disatu film, lanjutkan ke film berikutnya. "Filmaker atau sienas punya kendala masing-masing, tapi semangat juang yang paling penting, semangat perlu dijaga. Kalau cerita bisa dipelajari, tapi untuk tetap bisa konsisten dijalurnya itulah yang berat," ujarnya.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR