LAMPUNG POST | lampost.co logo
LAMPUNG POST | Masih Terjaga
Muharam Candra Lugina, wartawan Lampung Post. Lampost.co

Masih Terjaga

BEBERAPA waktu lalu sejumlah media, baik cetak, televisi, maupun online, kerap memberitakan adanya perpecahan di kalangan masyarakat. Hal itu membuat sejumlah pihak berusaha berusaha memperkuat persatuan dan kesatuan dengan berbagai cara.
Memang harus diakui, berdasarkan CIA World Factbook pada 2016 Indonesia berpenduduk 258.316.051 jiwa dan menjadi terbesar keempat di dunia. Di Indonesia terdapat keanekaragaman di dalamnya, seperti agama, adat istiadat, ras, bahasa, dan sebagainya. Dengan situasi sekarang, keragaman tersebut terkadang menjadi komoditas bagi pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk dijadikan bahan memecah belah bangsa.
Saya pun sempat berpikir apakah persatuan dan kesatuan di masyarakat, terutama masyarakat bawah, memang benar-benar sudah terkikis? Namun, apa yang terpikir dalam pikiran saya sedikit terbantahkan saat saya pulang kampung, beberapa waktu lalu.
Ketika itu masih pagi sekitar pukul 06.00 usai turun dari kendaraan, saya menyusuri jalan ke arah rumah keluarga besar. Saat memasuki gang yang hanya cukup untuk dua motor, dari kejauhan saya melihat seorang pria paruh baya sedang mendorong gerobak buburnya.
Dia harus mendorong gerobaknya melewati sebuah tanjakan. Saya sempat membatin dengan gerobak yang cukup berat itu, dia takkan mampu mendorong gerobaknya melewati tanjakan tersebut. Saya pun mempercepat langkah untuk menolong sang pedagang bubur itu. Namun, sebelum sampai, di belakang si bapak berhenti sebuah motor. Tampaknya keduanya sudah saling kenal karena terlihat akrab saat terlibat obrolan.
Tak lama berselang, sang pemilik motor turut membantu sang pedagang bubur mendorong gerobak melewati tanjakan tersebut. Saya pun penasaran dengan orang yang membantu si pedagang tersebut. Saat kami berpapasan saya perhatikan si penolong yang masih memakai helm, siapa tahu saya kenal dengan orang itu.
Saya curi-curi pandang dan perhatikan si penolong itu, namun saya tidak mengenalnya, padahal saya banyak mengenal warga di sekitar rumah saya. Satu hal yang membuat saya agak terkejut ternyata yang menolong si penjual bubur adalah seorang warga nonpribumi.
Kejadian tersebut membuka kembali kenangan saya saat masih kecil. Di daerah saya memang sejak zaman dulu banyak dihuni warga nonpribumi. Namun, perbedaan yang ada tak menjadi penghalang bagi warga di daerahku untuk menjaga tali silaturahmi dengan semua golongan. Saya kerap melihat, mereka turut dalam gotong royong atau ronda bersama dengan warga pribumi.
Hal itu membuat kami tak segan-segan untuk saling membantu jika ada di antara kami yang tertimpa kesulitan. Kebersamaan yang saya rasakan sejak dulu ternyata masih bisa saya saksikan hingga saya dewasa kini.
Ternyata perkembangan zaman yang cukup pesat dengan kemajuan teknologi yang kian canggih tak mampu melunturkan toleransi di daerahku yang sudah terpupuk sejak lama. Gambaran tersebut setidaknya bisa menjadi cermin bagi semua untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Sebab, berdirinya bangsa ini pun merupakan perjuangan dari semua golongan yang ada di Indonesia.

BAGIKAN


loading...

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv