SABTU kemarin, kami nyaris kehilangan ponsel Android. Ceritanya, saya, istri, dan anak balita kami belanja ke toko. Usai lihat-lihat barang, kami memilih kebutuhan barang dan membayar di kasir. Saya menunggu antrean di kasir, sementara istri dan anak menunggu di luar. Istri yang memegang paper bag berisi ponsel dan sedikit uang menaruhnya ke motor. 

Selang beberapa menit, kami meninggalkan toko dan mampir sebentar ke rumah saudara tak jauh dari toko. Tiba di rumah saudara, kami terkejut karena paper bag tidak ada di motor. Kami bergegas menuju toko semula dan melihat paper bag hijau itu ada di motor. 



Melihat paper bag hijau itu, saya langsung ambil. Pemilik motor matic itu pun bingung karena ada barang yang bukan miliknya ada di motor. Ternyata, istri saya lupa dan menaruh di motor orang lain. Kejadian begitu cepat mungkin karena dia lelah jadi kurang fokus menaruh barang.  "Masih rezeki," kata saya dalam hati. 

Mengingat rezeki, setiap orang pasti percaya kalau rezeki tak tertukar. Setiap makhluk hidup di dunia ini pasti mendapat rezeki sesuai takarannya ada yang sedikit dan banyak. Ustaz di musala tempat kami tarawih dalam tausiahnya bilang kalau manusia sudah ditakar rezekinya, misal Rp1 miliar untuk puluhan tahun. 

Setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rezekinya sehingga siapa pun yang hidup pasti diberi jatah rezeki oleh Allah sampai dia mati. Hakikat rezeki merupakan apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. 

Aa Gym dalam bukunya Menjemput Rezeki dengan Berkah (2003) menjelaskan kita harus mengevaluasi sikap kita terhadap rezeki yang Allah berikan. Ada yang diberi rezeki, namun rezekinya berubah menjadi musibah karena salah menyikapinya, jangan-jangan Allah memberi rezeki banyak tapi kita kufur nikmat.

Ia juga memerinci kalau ikhtiar harus benar, karena segala sesuatu harus dengan ilmu termasuk untuk mendapatkan rezeki. Maka, kalau tak pernah mencari ilmu, tak akan bertemu dengan rezekinya. "Tak mau mencari ilmu sama dengan tak mau mendapatkan rezeki."

Di bulan Ramadan ini, amalan membuka rezeki harus meningkat seperti salat tepat waktu, perbanyak istigfar, silaturahmi, dan sedekah. “Sebab, tidak ada satu pun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rezekinya." (QS Hud: 6).

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR