DISKUSI awal pekan lalu, yang ditaja kawan-kawan aktivis lingkungan hidup Mitra Bentala, menjadi penggambaran bahwa lingkungan hidup belum menjadi isu “seksi” bagi para calon pemimpin Lampung periode 2019—2024.

Alasannya pertama, karena pada diskusi itu tidak ada satu pun calon gubernur yang menyempatkan hadir untuk berdiskusi satu meja dengan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, petani, nelayan, hingga banyak aktivis pastinya, meskipun ada satu calon wakil gubernur yang hadir. Selebihnya memilih berwakil, dengan berbagai alasan, tentunya.



Kedua, dalam sesi diskusi yang memaparkan berbagai permasalahan, sebagai tanda darurat ekologis di Bumi Ruwa Jurai, seperti kondisi kerusakan hutan, bom waktu sampah, hingga eksplorasi potensi pariwisata yang belum ramah lingkungan, itu belum mampu memunculkan visi lingkungan para calon. Tepatnya, belum ada program lingkungan hidup yang sepertinya serius dirancang, syukur-syukur akan dilaksanakan dari masing-masing pasangan.

Akhirnya, malam itu juga, beberapa aktivis lagi-lagi harus bersuara keras. Kaset lama kembali diperdengarkan. Menilai para calon pemimpin masih menganggap isu lingkungan enggak “seksi”.

Buktinya, saat dimintai gambaran program, para calon gubernur tidak segetol, saat menyebutkan berbagai program yang akan dilakukan di bidang lain, seperti infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan yang memang sudah semestinya dipenuhi toh?

Namun apakah teguran beberapa bulan lalu sudah hilang begitu saja di ingatan kita, terutama para calon pemangku kebijakan ini. Saat hampir sebagian kabupaten di Lampung dilanda musibah banjir dan tanah longsor. Banjir di Tanggamus, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat, juga Bandar Lampung yang sepertinya menjadi musibah terbesar menjelang perhelatan akbar pilgub Lampung.

Sawah, ladang, rumah, jalan, hingga nyawa sanak keluarga jadi tumbal kemurkaan alam. Ratusan miliar rupiah lebih modal pembangunan infrastruktur yang selama ini jadi program prioritas, lenyap tersapu banjir seketika.

Lantas, apakah itu bukan teguran? bahwa lingkungan hidup di ujung selatan pulau Sumatera ini minta untuk lebih diperhatikan? Sebab merancang visi lingkungan dengan serius, sama halnya membangun investasi masa depan yang besar. Sesuatu yang juga akan menyelamatkan program-program pembangunan lain dan keselamatan jutaan rakyat.

Meskipun apa yang dilakukan tidaklah seinstan membangun gedung-gedung megah atau jembatan yang sekejab bisa diagung-agungkan sebagai buah sukses kepemimpinan. Semoga bisa berubah.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR