KALIANDA (Lampost.co)--Sejumlah sopir truk lintas Jawa-Sumatera mengaku masih ada oknum petugas yang melakukan pungutan liar (pungli) di jalanan. Namun pungli cenderung dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

“Tidak kayak dulu. Sekarang pungli jalanan yang dilakukan oleh polisi atau Dishub turun dratis dibandingkan era 2005 ke bawah. Adapun pungli, saat ini dilakukan sembunyi sembunyi,” kata Manurung,  seorang sopir truk Fuso lintas Sumatera Selatan-Jakarta saat beristirahat di RM Sino Ajo jalinpantim Desa Tamansari, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Selasa ((8/5/2018) sore.
Biasanya, ujar dia, target pungli adalah kendaraan barang yang membawa muatan melebihi kapasitas.  Ia menceritakan diruas jalinpantim dan jalinsum kabupaten Lampung Selatan, biasa oknum polisi yang hendak pungli menyusuri jalan raya pelan-pelan menunggu sasaran yang melanggar undang undang lalu lintas.
“Saat melihat truk yang membawa muatan melebihi kapasitas dan berpotensi lakalantas. Maka mobil polisi akan memberi kode, dan sopir truk akan tanggap. Lalu, kernet truk turun dan mwnghampiri mobil polisi itu sembari memberikan uang,” ujar Manurung yang berpengalaman dengan modus-modus oknum petugas saat menjalankan aksi pungli.
“Itupun tidak lama, 30 menit sampai 1 jam, mereka sudah menghilang. Mungkin cuma cari uang makan saja,” ucapnya.
Hal senada diungkapkan Wahono, sopir truk lainnya. Menurutnya, tingkat pungli oleh oknum petugas di jalanan turun dratis. Saat ini, ujarnya, pungli hanya dilakukan oleh sopir yang melanggar undang undang lalu lintas.
“Kalau saya nggak mau ngemel (ngasih uang) saat ada polisi yang nyacing di jalan raya, karena saya merasa tidak ada kesalahan. Mereka pun diam saja. Tidak marah. Namun ada saja sopir yang ngasih uang, mungkin merasa salah atau sudah kebiasaan. Biasanya ngasih uang antara Rp 5ribu sampai Rp 20ribu setiap ada pungli,” ungkap Wahono.



Berbeda dengan pungli ala preman. Biasanya para preman memanfaatkan kondisi jalan raya yang rusak untuk meraup keuntungan. Dengan berpura-pura menimbun jalan, mereka meminta sumbangan kepada para sopir, saat malam  mereka meminta sumbangan secara paksa.
“Dulu di jalinpantim Lampung Timur yang marak preman pungli. Namun sekarang sudah tidak ada lagi karena jalan sudah bagus. Adapun pelaku kriminal. Malak atau nodong,” tukasnya.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo kaget saat sopir truk yang  bersilaturahmi ke Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/5/2018) mengeluhkan masih banyak pungutan liar.
Para sopir truk lintas Sumatera mulai dari Aceh hingga Lampung menyebutkan pungli paling banyak dilakukan oleh preman.
Bahkan, pungli oleh preman ini juga terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya, seperti di Marunda dan Cakung-Cilincing.

Selain preman,  mereka juga mengeluhkan pungli oleh aparat polisi hingga petugas dinas perhubungan. Biasanya, pungli terjadi karena muatan truk yang berlebih.
Presiden Jokowi berjanji akan langsung menindaklanjuti keluhan para sopir truk. Presiden memerintahkan Wakapolri Komjen Syafruddin dan Menteri Perhubungan Budi Karya yang hadir dalam pertemuan itu untuk segera bertindak.
Ia mengaku kaget masih banyaknya pungli. Sebab, selama ini tidak ada laporan serupa yang masuk dari pejabat terkait.
“Saya minta preman-preman yang selama ini memalak sopir truk untuk ditindak. Begitu juga bila ada oknum polisi atau petugas  dinas perhubungan yang bermain, disikat semuanya," tegas Presiden Jokowi. 

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR