LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 8 July
8200

Tags

LAMPUNG POST | Masa Kelabu Petani Kopi
Kopi Indonesia. komoditi.co.id

Masa Kelabu Petani Kopi

LAMPUNG menjadi salah satu penyuplai kebutuhan kopi terbesar di Indonesia. Sebesar 17% kebutuhan kopi nasional dipenuhi dari Lampung, terutama dari Kabupaten Lampung Barat sebagai sentra produksi kopi robusta. Dalam empat tahun terakhir, tren produksi kopi nasional menurun hingga Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian memangkas target produksi kopi nasional karena berkurangnya lahan. Perinciannya, pada tahun 2016 dengan lahan 1,2 juta hektare produksi ditargetkan mencapai 639 ribu ton, sedangkan pada 2017 dengan lahan 1,1 juta hektare target diturunkan menjadi 637 ribu ton.
Hal sebaliknya justru terjadi di Provinsi Lampung. Produksi kopi terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, tren produksi kopi di Bumi Ruwa Jurai naik mulai 92.111 ton pada tahun 2014, kemudian 110.318 ton pada 2015, 110.354 pada 2016, dan 110.368 ton untuk prediksi tahun 2017.
Bak petir pada siang hari, tiba-tiba terungkap pada semester pertama tahun 2017 produksi kopi di Lampung menurun drastis. Di Lampung Barat, misalnya, produksi kopi anjlok hingga 70%, sedangkan di Kabupaten Way Kanan produksi turun hingga 30%. Kedua daerah itu merupakan sentra produksi komoditas kopi di Lampung, selain Kabupaten Tanggamus. Inilah salah satu masa kelabu petani kopi di Lampung.
Secara perinci, data di Dinas Perkebunan dan Peternakan Lampung Barat menyebutkan tahun lalu untuk produktivitas setiap hektare lahan kopi bisa mencapai 1 ton. Namun, tahun ini dengan luas lahan yang sama hanya menghasilkan 3 kuintal. Anehnya, alasan penurunan produksi yang dilontarkan Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung kali ini adalah faktor musim dan cuaca. Alasan lain, fase istirahat tanaman pascaproduksi tinggi dalam dua atau tiga periode juga membuat hasil panen menurun.
Karena faktor cuaca itu, turunnya produktivitas tidak bisa tertolong. Sebab, hujan yang hampir terjadi selama setahun dengan intensitas tinggi akan mematikan benang sari yang seharusnya membuahi bakal buah kopi. Solusinya, pemerintah akan menggelar sekolah lapangan bagi para petani untuk membangun wawasan mereka.
Akan tetapi, petani tidak butuh penjelasan bahwa penurunan produksi adalah wajar karena mereka lebih mengetahuinya lantaran selama bertahun-tahun mereka berbudi daya kopi. Petani hanya butuh bantuan pemerintah untuk mencarikan bantuan atas kerugian mereka karena produksi menurun.
Harapan petani kopi juga ditujukan kepada Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Lampung agar bisa mengucurkan dana bantuan. Sebab, dari merekalah komoditas yang selama ini menjadikan para eksportir itu bisa berniaga. Apabila produksi kopi terlalu lama menurun, tentu akan berimbas kepada menurunnya volume ekspor anggota AEKI. Simbiosis mutualisme perlu kembali diingatkan kepada pihak-pihak terkait. Inilah tugas pemerintah untuk mengingatkannya.

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv