HALO sahabat reporter cilik Lampung Post, bagaimana kabar kalian? Senang sekali bisa kembali berbagi informasi di penghujung pekan ini. Oh ya, apakah di antara kalian ada yang bercita-cita ingin menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut?

Atau pasti banyak di antara sahabat yang mengagumi kegagahberanian para prajurit TNI AL, khususnya Marinir, yang selalu siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk memperoleh pengetahuan lebih mendalam tentang para prajurit Marinir, tiga reporter cilik Lampung Post asal SDN 3 Gulak Galik, Telukbetung Utara, Bandar Lampung, yaitu Gustap Putra Wijaya, Nigel Satria Alfarizi, dan Rifa Putri Halomoan, berkesempatan mengunjungi markas Batalion Infanteri-7 Marinir Lampung di Bumi Marinir Piabung, Ketapang, Kecamatan Padangcermin, Kabupaten Pesawaran, belum lama ini.



Ketiga repcil yang didampingi Kepala SDN 3 Gulak Galik, Lesmi Atika, dan guru pendamping Sukmawati secara langsung disambut oleh Komandan Batalion Infanteri-7 Lampung Mayor Mar Kanang Budi Raharjo yang menjabat sebagai komandan sejak 22 Desember 2017.

Masih mengenakan pakaian olahraga selepas memimpin apel pasukan, Bapak Kanang yang merupakan seorang master pertahanan laut itu dengan ramah menjawab setiap pertanyaan yang kami sampaikan. Berikut petikan wawancara kami sahabat.

 

Assalamualaikum, Pak, perkenalkan kami reporter cilik Lampung Post. Kami ingin mewawancarai Bapak sebagai Komandan Batalion Infanteri-7 Marinir Lampung, apa saja tugas-tugas yang Bapak emban?

Waalaikumsalam. Terima kasih atas kesempatan adik-adik repcil Lampost yang sudah datang ke markas Batalion-7 Marinir. Sebagai komandan batalion tugas pokok saya yakni menyiapkan personel maupun materialnya untuk siap melaksanakan penugasan, baik operasi militer perang maupun operasi militer nonperang.

Saya menyiapkan personel dengan melatih fisik, keterampilan, kemampuan taktik dan teknik, hingga alat dan peralatan yang dibutuhkan. Kami selalu siap melaksanakan tugas dari satuan komando atas dengan baik.

 

Oh ya, apakah sejak kecil Bapak memiliki cita-cita ingin menjadi seorang prajurit Marinir seperti sekarang?

Saya sudah mengenal TNI Angkatan Laut sejak duduk di bangku SMP. Namun karena saya berasal dari Tuban dengan daerahnya pegunungan, pada 1997, saat mendaftar taruna Akabri pilihan pertama saat itu Angkatan Darat, meski saat itu saya gagal.

Tidak putus asa, pada 1998, saya kembali mendaftar dan memilih Angkatan Laut sebagai pilihan pertama. Di antara 225 taruna Akabri AL saat itu, saya termasuk 12 orang yang menjadikan TNI AL sebagai pilihan pertama. Alhamdulillah saya juga masuk peringkat 10 besar. Saya bersyukur karena meski ayah dan ibu saya tidak berpendidikan tinggi, dan hanya petani tetapi anaknya bisa menjadi seorang tentara.

 

Sebelum komandan Yonif 7 tugas apa yang pernah Bapak emban?

Saya berdinas di Batalion Infanteri-7 Marinir ini sudah 16 tahun. Pertama ditempatkan (2002) saya menjadi komandan pleton, kemudian ditugaskan ke Aceh selama 18 bulan. Sepulang dari Aceh, saya bertugas mengawal panglima TNI hampir setahun.

Setelah itu saya kembali menapaki jenjang karier dari bawah di Batalion Infanteri-7, dari Wadanki, Danki Markas, Kasi Intel, hingga wakil komandan batalion. Selepas melanjutkan sekolah saya kembali dan menjabat komandan batalion.

 

Apakah Bapak pernah dikirim untuk berperang?

Pernah. Pada 2002—2004 saya bergabung dengan Satgas Rencong Sakti ke-24 di Aceh. Selama berperang saya harus bisa bertahan hidup. Makan apa saja yang ada di alam.

 

Alat-alat apa saja yang digunakan untuk berperang dan ada di Batalion Infanteri-7 Marinir ini, Pak?

Semua perlengkapan untuk satuan Batalion Infanteri ada di sini, mulai dari senjata perorangan, senjata serbu, dan senjata lainnya. Kami juga memiliki roket peluncur granat seperti yang adik-adik biasa lihat di film.

Namun senjata pamungkasnya Batalion Infanteri-7 Marinir adalah sebuah mortir 81 dengan jarak jangkaunya hingga 22 km. Untuk ukuran batalion, kami cukup lengkap dalam hal persenjataan sehingga selalu siap jika mendapatkan tugas dalam kondisi apa pun.

 

Jika boleh tahu, apa semboyan Batalon Infanteri-7 Marinir ini?

Semboyan kami adalah Anggaraksa Jaladi Brani dari bahasa Sansekerta yang artinya pengawal samudera yang pemberani. Logo kami adalah elang samudera.

 

Oh ya, Pak, bagaimana untuk bisa menjadi seorang prajurit Marinir?

Sebenarnya mudah, setiap tahun dibuka penerimaan dari beberapa strata. Ada tamtama, bintara, juga perwira. Tamtama dan bintara setahun pendaftarannya dua kali untuk lulusan SMA sederajat yang dilakukan di Lanal, Lantamal, atau Koarmada. Kalau di Lampung ada di Panjang dan Kotabumi (Lampura).

Untuk strata perwira ada dua. Pertama, pada April ini dibuka untuk Akabri. Namun untuk pendaftaran langsung ke Jakarta atau Padang, Sumatera Barat, karena langsung di Lantamal. Kami pastikan rekrutmennya bersih.

Kedua jika dari jenjang kuliah, bisa mendaftar jalur SPKTK. Akhir Agustus biasanya dibuka. Sebaiknya jika melalui jalur ini pendaftar dari jurusan yang lebih spesialis, seperti hukum, olahraga, dan kedokteran. Tahun ini kami membutuhkan banyak dokter juga.

 

Apa pesan Bapak untuk anak-anak Lampung?

Pertama saya berpesan, kalian masih muda dan memiliki harapan yang masih panjang. Pergaulan sekarang ini sudah tidak berjarak karena teknologi. Jadi jagalah diri kalian, perkuat iman dan takwa, sebagai benteng akhlak. Kedua, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Kalaupun nanti jatuh, masih akan berada di antara bintang-bintang.

Jika sudah besar, mau jadi apa pun kalian, tetap nasionalisme itu nomor satu. Sehebat apa pun kita, jika Indonesia tidak merdeka, kita tidak bisa apa-apa. Kita wajib menjaga kemerdekaan itu ya adik-adik.

Jika suatu negara mampu mempertahankan 100 tahun kemerdekaannya, negara itu menjadi negara hebat. Generasi kalianlah yang bertanggung jawab.

loading...

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR