RAMADAN 1439 H di depan mata. Bulan suci umat Islam dengan sedemikian banyak fadilah di dalamnya itu senantiasa ditunggu kehadirannya dengan sukacita. Bulan yang di dalamnya terdapat salah satu kewajiban sekaligus merupakan rukun Islam bagi umat Islam, yaitu berpuasa, mesti dipersiapkan dengan sebaik mungkin. Bukan hanya persiapan fisik, persiapan mental juga tidak kalah penting agar semua amal ibadah tahunan ini dapat dilaksankan dengan baik.

Kata marhaban ya Ramadhan dapat diartikan selamat datang Ramadan. Kata marhaban lazimnya diartikan sebagai kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu yang berarti selamat datang. Padanan kata marhaban sama dengan ahlan wasahlan. Kedua kata ini memiliki makna mendalam, yang masing-masing mengandung filosofi yang tidak sama.



Ahlan wasahlan adalah ungkapan selamat datang, yang di dalamnya terdapat kalimat tersirat, yaitu Anda berada di tengah keluarga dan melangkahkan kaki di dataran rendah yang mudah. Sementara marhaban ya Ramadhan berarti selamat datang Ramadan yang mengandung arti bahwa umat Islam seluruhnya menyambut dengan sukacita, lapang dada, dan penuh kegembiraan.

Respons Masyarakat

Pola kehidupan masyarakat muslim di berbagai tempat hari-hari ni agak berbeda. Suasana sukacita menjadi ekspresi menyambut kedatangan Ramadan penuh berkah. Potret ini dapatlah digambarkan di satu sisi dapat dipandang sebagai pertanda tumbuh dan berkembangnya kehidupan beragama di sekitar kita. Namun, di sisi lain, fenomena ini dapat dijadikan sebagai refleksi kritis, apakah ini semua merupakan pertanda peningkatan mutu kesadaran keberagamaan kita.

Kesibukan terlihat lebih mencolok pada jajaran Kementerian Agama Provinsi Lampung, khususnya Tim Badan Hisab dan Rukyat Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung yang menggelar rukyatul hilal bil fi’li di pos observasi di Desa Canti, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.

Pemantauan hilal tersebut untuk melihat posisi bulan dan matahari sebagai penentu untuk menetapkan hari pertama puasa Ramadan 1439 H. Ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan tahun ini terjadi pada Selasa, 15 Mei 2018 M/29 Syakban 1439 H.

Lebih jauh, tengok pula, spanduk, baliho, poster, dan atribut lainnya terlihat di mana-mana sebagai tanda gembira ria menyambut kedatangan Ramadan. Demikian juga insan media yang telah sejak jauh hari menyusun konten program-program Ramadan.

Pengeras suara terdengar saling bersahutan di masjid-masjid, musala, serta meriahnya acara buka bersama. Para pedagang jajanan musiman juga menambah deretan keramaian di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Alhasil, suasana yang gegap gempita yang demikian semringah ini jelas membekas.

Persiapan Sambut Ramadan

Pertanyaan kritis yang perlu kita ajukan, apakah suasana batin yang luhur, bersih, semangat ibadah yang terus menggelora terjaga dalam sebelas bulan berikutnya setelah berakhirnya Ramadan nanti? Tentu yang bisa menjawabnya masing-masing kita. Atau kita mengatakan bahwa umat Islam sudah terbiasa hanya menunggu datang dan perginya Ramadan. Setelah itu, seperti biasa lagi. Seakan-akan kita bersemangat untuk beribadah puasa, salat sunah, ke masjid, membaca Alquran, sedekah, dan beribadah lain hanya pada bulan Ramadan.

Persiapan fisik jelang puasa dapat dilakukan dengan melatih berpuasa Syakban. Di samping meraih keutamaan pada bulan Syakban sebagai salah satu bulan mulia, kemampuan fisik juga sudah bisa mulai diasah dengan puasa di bulan tersebut. Kondisi fisik khususnya lambung sebagai tempat memproses setiap makanan dan minuman yang masuk akan mulai terbiasa tatkala nantinya selama satu bulan penuh pada bulan Ramadan.

Persiapan mental tidak kalah pentingnya. Karena berpuasa pada bulan Ramadan terkait dengan ibadah vertikal, orang yang berpuasa harus memahami hukum dan berbagai hal terkait dengan tata cara melaksanakan ibadah puasa. Persiapan ini juga merupakan wujud rasa gembira menyambut datangnya Ramadan yang sudah dijanjikan oleh Rasul bahwa barang siapa bergembira akan datangnya Ramadan akan diselamatkan jasadnya dari neraka.

Ramadan tidak akan bisa dilepaskan dari puasa. Jika ibadah lain membuahkan hasil balasan berupa pahala dari Allah swt, puasa memiliki keutamaan ganda. Di samping sudah disediakan balasan pahala, orang yang berpuasa dengan mengharap keridaan Allah swt juga akan dihapus dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Selain keutamaan ganda, ibadah puasa juga ibadah yang hanya pelaku dan Allah swt saja yang tahu.

Karena itu, ibadah puasa juga dikatakan sebagai ibadah amanah, apalagi ibadah puasa merupakan amanah dari Allah swt. Maka itu, sudah seharusnya dikerjakan karena bisa dipastikan banyak hikmah yang ada di dalamnya bagi kemaslahatan umat. Inilah yang tidak dimengerti banyak orang sehingga banyak yang menjalankan puasa hanya untuk menggugurkan kewajiban sehingga tidak ada yang didapat selain haus dan lapar.

Tiga Tingkatan puasa

Terkait dengan kualitas puasa, Imam Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus.

Puasa umum diartikan sebagai puasanya orang yang hanya menahan lapar dan dahaga serta menjaga kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Sementara puasa khusus merupakan puasa yang tidak hanya menahan makan, minum dan syahwat, namun juga menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari melakukan dosa.

Puasa paling khusus yaitu menahan hati agar tidak mendekati kehinaan dan selalu mengingat Allah swt dalam segala aktivitas berpuasa. Dalam puasa yang ketiga ini, disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah swt dan hari akhir.

Puasa memang panggilan keimanan yang didasari dengan keikhlasan untuk menggapai tujuan utama, yaitu menjadi orang yang bertakwa dalam hal ini takut serta patuh kepada Sang Khalik. Hal ini ditegaskan Allah swt dalam QS Al-Baqarah: 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” Wallahualam bissawab.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR