PAGI terasa hangat. Sinar matahari menerangi sebuah warung nasi uduk dan kopi yang hanya berjarak beberapa meter dari musala. Warung itu tidak selalu ramai pembeli.

Terdengar perbincangan hangat antara marbot musala dan seorang mahasiswa di warung. Obrolan ini dimulai dengan pertanyaan terkait politisasi masjid. Menurut si marbot, akhir-akhir ini masjid dan beberapa musala menjadi tempat orang untuk membahas politik.



Masjid jadi pusat diskusi untuk memojokkan kelompok tertentu. Terkadang ada ajakan untuk berjuang dalam memenangkan atau mengalahkan bagian yang bukan dari kelompoknya. Pernah juga terdengar tentang jihad melawan kezaliman dengan mendukung calon dalam pemilihan kepala daerah.

Marbot mencontohkan ceramah Amien Rais terkait partai setan dan partai Allah. Pernah suatu waktu Eggy Sujana ceramah setelah salat subuh yang isinya menuding kegagalan pemerintah. Saat di Balai Kota, Amien menyampaikan bahwa pengajian yang disisipi kepentingan politik praktis itu adalah sebuah keharusan. Amien ingin para ustaz memiliki andil dalam Pilpres 2019. (detik.com)

Coba kamu perhatikan apa yang disampaikan Pak Amien di Balai Kota, Jakarta. "Ini ustaz peduli negeri, pengajian-pengajian disisipi politik itu harus. Jam tiga pagi bangun, ambil air wudu, kemudian salat, berdoa. Allah pakai bahasa apa saja bisa. Jadi, ya Allah, mudah-mudahan negeri kami, negeri muslim terbesar di muka bumi ini, pada tahun 209 (2019) mendapat presiden yang baru," ujarnya.

Si mahasiswa menyimak. Menurutnya, sah-sah saja seorang ustaz dan tokoh seperti Amien menyampaikan pendapatnya, apalagi umat Islam dituntut untuk tidak melepaskan agama dan politik. Politik dan agama harus selalu beriringan.

Namun, kata si marbot, pendapat mantan Ketua MPR itu ditentang mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif. Buya Syafii menilai mengatakan kegiatan keagamaan tidak boleh disisipi kepentingan politik praktis. "Kalau politiknya politik tinggi, (tidak masalah). Tapi, kalau politik tujuannya untuk kaitan pilkada, pemilu, cari pengikut, itu tidak benar."

Menurut Buya, kalau mau pakai agama, jadikan sebagai acuan moral. Politisi itu harus bisa tampil secara beradab, saling menghargai, dan tidak sampaikan ujaran kebencian.

Marbot menambahkan semua orang paham dengan posisi politik Amien dan Buya Syafii juga selama ini dinilai lebih dekat dengan pemerintah. Ada baiknya semua pihak menahan diri untuk tidak terlalu larut dalam tahun politik.

Mahasiswa dan marbot pun bersepakat bahwa pilihan politik ada di benak masing-masing warga. "Kita harapkan pilihan warga memakai hati nurani dan dibimbing dengan akal sehat," kata marbot.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR