BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Jaksa Kejaksaan Tinggi Lampung menuntut terdakwa Muchlis Adjie (51), PNS mantan kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Kalianda, dengan pidana penjara selama 20 tahun kurungan, Rabu (2/1/2019).

Jaksa Rosman Yusa, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, mengatakan semua unsur dalam dakwaan jaksa terbukti secara sah terdakwa meyakinkan bersalah tanpa hak atau melawan hukum melakukan percobaan atau permufakatan jahat.



Terdakwa semestinya mengawasi pelaksanaan tugas pengamanan dan pengawasan terhadap narapidana, mengoordinasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban Lembaga Pemasyarakatan, mengawasi penerimaan, penempatan, dan pengeluaran narapidana, serta melakukan pemeriksaan pelanggaran keamanan dan ketertiban, tapi justru memberikan fasilitas kemudahan terhadap narapidana yang bernama Marzuli Yunus, yang merupakan terdakwa narapidana dalam perkara narkotika.

Fasilitas dan kemudahan tersebut yang diberikan terdakwa, di antaranya menempati sel hanya bertiga dengan narapidana lainnya, sedangkan sel lainnya diisi kurang-lebih 20 narapidana, selain fasilitas terdakwa juga memberi kebebasan terhadap napi atas nama Marzuli menerima tamu.

"Terdakwa melakukan permufakatan jahat, tindak pidana narkotika dan prekursor menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual-beli, menukar, atau menyerahkan narkotika golongan 1 dalam bentuk bukan tanaman dengan berat bruto keseluruhan 4.627.73 gram yang terdiri dari narkotika yang biasa disebut dengan jenis sabu-sabu dengan berat bruto 2.782,38 gram dan 4.000 butir narkotika yang biasa disebut dengan jenis ekstasi dengan berat bruto 1.845,35 gram," kata Jaksa Yusa, pengganti Jaksa Andri Kurniawan.

Terdakwa melanggar Pasal 114 jo 132 dan Pasal 112 jo 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman pidana penjara paling ringan 5 tahun. "Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Muchlis Adjie dengan pidana penjara selama 20 serta denda Rp1 miliar subsider 8 bulan kurungan," kata Jaksa.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR