LIWA (Lampost.co)--Kecintaan terhadap kopi membuat petani ini terus mengembangkan kopi organik. Meski secara bisnis kurang menguntungkan, Mang Encak tak mau meninggalkan tekadnya mengembangkan kopi organik. Harapannya, suatu saat masyarakat akan makin sadar akan pentingnya produk pertanian yang bebas pestisida.
"Saat ini, bisa dikatakan kami menjual dengan hati. Ya, 'jual hati'. Kami memang tidak menjual dengan harga tinggi karena kami juga belum bisa membuktikan jika ditanya khasiat kopi organik ini," ujar Mang Encak saat ditemui di arena Festival Kopi yang digelar di Pekon Gunung Terang, Kecamatan AirHitam, Lampung Barat, pada Sabtu (21/7) malam.

Sebagai gambaran, Mang Encak saat ini menjual kopi organik bubuk kemasan 150 gram dengan harga Rp15 ribu sementara kopi bubuk non-organik dijual Rp20 ribu untuk kemasan Rp250 gram.
Pria paruh baya yang nama aslinya adalah Risdiantony ini mengaku membudidayakan kopi dengan cara organik, bebas pestisida, sejak tahun 2013 dan mulai memanen tahun 2014.
Karena belum berpengalaman, produksi pertama jauh dari yang diharapkan. Dengan sistem biasa, menggunakan pupuk kimia dan pestisida, hasilnya bisa 1,2 ton per hektare. Tetapi, saat mencoba budi daya dengan sistem organik, hasilnya cuma sekitar 4 kuintal per hektare.
Tetapi setelah itu, perlahan produksi bisa ditingkatkan. "Panen tahun 2016 sudah bisa 1 ton kurang 28 kg per hektare. Tetapi, panen terakhir kemarin, mungkin karena cuaca, 1 hektare cuma keluar 5 kuintal," ujar Mang Encak.
Menurutnya, karena produksi yang tidak menentu dan harga yang kurang menjanjikan itulah, petani yang tadinya bergabung untuk mengembangkan budi daya kopi secara organik banyak mundur.
Awalnya ada 30 petani yang mengelola kebun kopi organik seluas 17,25 hektare. Sekarang, tinggal 9 orang yang mengelola kebun kopi organik seluas 7,5 hektare. "Itu karena harga di tengkulak masih sama saja, antara kopi organik dan non-organik," ujarnya.
Karena itu, Mang Encak berharap ada pihak yang bisa membantu cara budi daya kopi organik secara benar sehingga produksinya bisa menyaingi kebun non-organik. Misal, dengan meneliti berapa kebutuhan unsur hara bagi kopi, berapa kandungan pupuk organik dan tanah tempat kopi ditanam.
"Kami kan tidak tahu kandungan unsur hara di tanah ada berapa dan pada pupuk organik itu berapa, serta kebutuhan untuk tanaman kopi itu berapa. Ini mungkin perlu didukung penelitian misal dari Polinela atau Unila," ujarnya. Selama ini, ia dan teman-temannya cukup menggunakan pupuk kandang.
Selain itu, perlu ada penyadaran bahwa mengonsumsi kopi organik itu jauh lebih baik ketimbang non-organik. Dengan demikian, harapannya nilai jual kopi organik bisa lebih tinggi lagi.
Untuk meningkatkan nilai jual, Mang Encak juga tak pernah menjual kopi organik dalam bentuk biji. Sejak 2014 kopi organik itu sudah berupa bubuk dalam kemasan.
Selain membudidayakan kopi secara organik, Mang Encak juga masih memilik kebun kopi yang membudidayakan kopi secara non-organik. Tetapi, pengelolaannya diserahkan kepada orang lain. Sementara, ia fokus pada kopi organik dan membuka kedai kopi.
Saat ini, Mang Encak telah memiliki sertifikat kopi organik dari Inofice (Indonesia Organic Farming Certification). "Saya dapat dari Inofice tahun 2013," ujar Mang Encak.



# Tingkatkan Nilai Jual

Upaya meningkatkan nilai jual kopi juga dilakukan sejumlah pemuda di wilayah Kecamatan Air Hitam dan sekitarnya. Rudi dan Oki, remaja usia 25-an tahun, misalnya, meningkatkan nilai jual kopi dengan menyediakan kopi berkualitas.
"Kalau diproses secara benar, harganya bisa meningkat 2-3 kali lipat," ujar Rudi saat ditemui di stand kopi Mraje dan Kopi Baba. Sebelumnya,  orang tua Rudi biasa menjual kopi dengan pengolahan alakadarnya. Sekarang, ia dan teman-temannya mencoba menaikkan kualitas dengan cara panen yang benar (petik merah), kemudian penjemuran dengan cara yang baik, sampai proses pengupasan. 
Dengan cara tersebut, mereka sudah bisa memasarkan biji kopi ke beberapa gerai di Bandar Lampung. "Ada juga permintaan dari Jawa," tambah Oki. 
Selain itu, mereka juga sudah membuka kedai kopi di Fajar Bulan dan menjual kopi dengan kemasan khusus, di antaranya Kopi M'raje dan Kopi Baba. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR