SIKAP rasis tidak sejalan dengan hak asasi manusia (HAM) yang memandang semua manusia sama tanpa melihat warna kulit, suku, agama, dan antargolongan.

Dang ngebida-bidako jelma. Unyin gegoh kham, miyoh khik metuk (Jangan membeda-bedakan orang. Semua sama kita, buang air kecil dan kentut).



Namun, siapa yang tidak kenal dengan sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai rasis. Padahal AS dikenal sebagai negara dunia, sebab warga negaranya berasal dari ras mana pun di dunia. Seperti sikapnya terhadap dua anggota parlemen yang dinilai rasis.

Namun kali ini, dia justru mengecam rasisme dan ideologi supremasi kulit terkait sejumlah penembakan massal di Negeri Paman Sam. Sejumlah pihak meyakini pernyataan ini akan kembali diucapkan Trump.

Na kan, kuk niat helaumu mak tipekhcaya lagi. Juk maling meru maling. Wat-wat gawoh (Nah kan, niat baik pun tidak lagi dipercaya. Seperti maling teriak maling. Ada-ada saja).

Penembakan di El Paso menewaskan 22 orang, dan sembilan lainnya di Dayton. "Negara kita harus mengecam rasisme, fanatisme, dan supremasi (kulit) putih," ujar Trump, dikutip dari AFP, Selasa, 6 Agustus 2019.

Selain menewaskan 22 orang, penembakan di El Paso juga melukai 27 orang dan 26 di Dayton. Pelaku penembakan di El Paso telah ditangkap dan akan terancam hukuman mati. Sementara pelaku penembakan di Ohio tewas ditembak petugas tak lama usai dirinya beraksi.

Dia menekankan bahwa gangguan mental adalah salah satu penyebab utama terjadinya rentetan penembakan massal di AS. Ia tidak menyebutkan ketersediaan senjata api yang dianggap banyak pihak sebagai faktor penyebab utama.

Sebelum pidato Trump, sejumlah tokoh di AS menilai retorika bernuansa kebencian dari petahana turut berkontribusi atas terjadinya penembakan massal. Salah satu kritik disampaikan mantan Presiden Barack Obama.

"Kita harus menolak bahasa yang keluar dari salah satu pemimpin kita yang makin mendorong iklim ketakutan dan kekhawatiran serta menormalisasi sentimen rasisme," ujar Obama.

Kepala Kepolisian El Paso Greg Allen mengatakan bahwa korban tewas meliputi 13 warga AS, tujuh Meksiko, satu Jerman, dan satu yang belum teridentifikasi.

Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard mengecam pembantaian di El Paso sebagai "aksi terorisme" terhadap warganya. Ia mengklarifikasi bahwa warga Meksiko yang tewas di El Paso bukan tujuh, namun delapan.

Dalam pidatonya, Trump tidak mengungkapkan dua ide yang sempat dituliskan di Twitter, beberapa jam sebelum naik podium. Kedua ide itu adalah memperketat pemeriksaan latar belakang calon pembeli senjata api dan juga mengaitkan reformasi kontrol senjata dengan aturan keimigrasian.

Ia hanya menyebutkan mengenai aturan "bendera merah," yang dapat membuat otoritas AS menyita senjata api dari orang-orang yang diyakini berpotensi melakukan tindak kejahatan.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR