TIGA hari lalu, saya berkunjung ke rumah seorang teman di Karanganyar, Lampung Selatan. Terakhir kali saya menyambangi kediamannya sekitar satu tahun yang lalu.

Sudah banyak yang berubah, termasuk lokasi rumahnya yang kini hanya berjarak sekitar 50 meter dari pagar pembatas jalan tol.



Sekitar tiga jam kami berbincang. Ternyata, ada satu topik di tengah obrolan kami yang memiliki kesamaan. Rumah kami sama-sama dibobol maling.

Bedanya, usai kejadian teman lebih memilih untuk pasrah. Ia tidak melapor ke polisi akibat kehilangan tab milik anaknya yang digondol maling.

Sementara saya, saat mengetahui rumah di Way Kandis dibobol maling, langsung tancap gas menuju Polsek Kedaton, Bandar Lampung, untuk membuat laporan.

Maklum saja, bagi saya tidak mudah mencari uang sekitar Rp20 juta dari barang-barang yang dibawa maling seperti televisi, kamera, dan lainnya.

Kami saling bercerita tentang musibah tersebut. Di tengah perbincangan, saya heran karena teman tiba-tiba justru tertawa.

Dia tertawa setelah saya mengatakan maling yang membobol rumah saya sejak tiga bulan lalu itu belum tertangkap. "Haha. Apes kamu. Itu sih malingnya sakti," ujar teman.

"Sakti gimana maksud kamu? Punya ilmu gitu apa?" ujar saya.

"Maksudnya itu maling di rumah kamu hebat. Teroris yang levelnya jaringan internasional saja enggak butuh waktu lama banyak yang keciduk, lo. Itu maling kampung sudah tiga bulan masih bebas berkeliaran. Sakti itu maling," kata teman.

"Sudah pasrah saja. Ikhlas. Kalau sudah lama begitu, mungkin barang buktinya juga sudah jadi kotoran manusia," lanjutnya.

"Sudah ikhlas kok. Saya yakin, kalau masih rezeki, tidak akan lari ke mana," kata saya, yang sejurus kemudian kami beralih berganti topik obrolan.

Selesai mengobrol dan pamit pulang, di tengah perjalanan saya masih teringat sebutan teman soal maling sakti tersebut.

Saya lalu membandingkan dengan banyaknya pelaku kejahatan lainnya. Tidak sedikit di antara mereka yang sudah masuk bui dalam tempo yang singkat.

Jika semua maling mempunyai kesaktian seperti pelaku yang membobol rumah saya, tentu ini amatlah mengkhawatirkan. Kecemasan bisa jadi akan melanda luas di tengah-tengah masyarakat. Dan, ini sejujurnya adalah sebuah kondisi keamanan yang cukup meresahkan.

Jujur saja, awalnya saya sangat percaya bahwa setiap aksi kejahatan sejatinya tidak pernah ada yang sempurna. Namun, ulah maling kampung nan sakti itu seolah telah mengikis kepercayaan tersebut.

Keamanan seolah menjadi sebuah keniscayaan. Dan, lebih buruknya, rasa trauma pun ikut merenggut harapan untuk bisa beraktivitas dengan nyaman.

loading...

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR