SEBELUM membahas inti persoalan, saya ingin mengajak pembaca untuk menyegarkan ingatan kita apa itu malapraktik. Berdasarkan yang saya kutip dari Wikipedia, malapraktik adalah suatu jenis kelalaian dalam standar profesional yang berlaku umum dan pelanggaran atas tugas yang menyebabkan seseorang menderita kerugian. 
 
Hal ini dilakukan oleh seorang profesional ataupun bawahannya, agen atas nama klien, atau pasien yang menyebabkan kerugian bagi klien atau pasien. Kemudian, ada pula malapraktik medis, yakni sebuah sebab tindakan hukum yang terjadi saat seorang profesional medis melewati standar dalam profesinya, sehingga menyebabkan dampak buruk bagi pasien. 
 
Adapun jenis malapraktik medis di antaranya meninggalkan alat operasi di dalam tubuh pasien, melakukan operasi yang salah, memotong organ tubuh yang salah saat operasi, dan memberikan obat yang salah kepada pasien atau salah dosis.
Berdasarkan penjelasan tersebut, saya ingin membahas suatu peristiwa yang belum lama ini terjadi. Dugaan malapraktik baru saja menimpa Septina (25), warga Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat. 
 
Dia diduga menjadi korban malapraktik oknum dokter di Rumah Sakit Asy Syfa Dayamurni, Tulangbawang Barat. Hal ini diketahui setelah sebuah benda asing berhasil dikeluarkan dari dalam perutnya. Benda asing berupa kain kasa itu diduga tertinggal pascakorban menjalani operasi sesar di rumah sakit itu pada 27 Maret 2019. Peristiwa ini telah dilaporkan ke Polres Tulangbawang. 

Beruntung hal itu dapat diketahui dan benda asing itu segera dikeluarkan. Pasalnya, selama benda asing itu berada di dalam tubuhnya, banyak sekali keluhan yang ia alami. Bahkan, hal ini sangat fatal karena bisa membahayakan nyawa seseorang. 



Sangat disayangkan hal ini masih saja terjadi. Apa pun itu, seharusnya dokter dan tenaga medis harus teliti dan tidak boleh sembarangan, apalagi ini menyangkut nyawa. Jangan sampai karena kelalaian mereka, nyawa manusia melayang sia-sia. 

Bisa dimengerti bahwa dokter dan para medis juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Namun, apakah hal seperti ini harus dimaklumi mengingat dokter dan para medis yang sudah bertugas di rumah sakit tentunya bukan para medis yang abal-abal. Atau, memang mereka bukan orang yang profesional?  

Ini sudah seharusnya diusut oleh aparat. Jika memang terbukti ada faktor kelalaian, sanksi tegas harus diberikan agar hal seperti itu tidak terjadi lagi. 
 
Pelajaran untuk kita semua adalah, apa pun yang kita kerjakan utamakan ketelitian agar kesalahan tidak terjadi. Jangan sampai karena mengejar waktu dan pendapatan, kita mengabaikan hal-hal kecil tapi dapat berakibat fatal. 

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR