LIWA (Lampost.co)--Malaman pitu likukh (malam 27 puasa) merupakan tradisi yang turun temurun dilestarikan masyarakat Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak. Di tengah kemajuan zaman, malaman pitu likukh yang ditandai dengan kegiatan bakar batok kelapa setinggi dua meter di sepanjang jalan raya dan halaman rumah masyarakat, tetap dilestarikan di bulan Ramadan yang akan segera berakhir.

Bagi masyarakat Sekala Brak, tradisi ini dimaknai sebagai wujud syukur telah melewati ibadah puasa dan menginjak malam ke-27, pertanda akan segera datangnya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam setelah sebulan berperang melawan hawa nafsu.



Di mata Raja Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Saibatin Pniakan Dalom Beliau (SPDB) Pangeran Edward Syah Pernong, Gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-XXIII, malaman pitu likukh khusus di Gedung Dalom Kepaksian Pernong diyakini sebagai malam turunnya lailatur qadar. Itu sebabnya, dahulu saat Saibatin tinggal bersama rakyatnya menjalankan pemerintahan adat, selalu diisi zikir dan doa bersama terutama saat Saibatin ke-20.
"Dipegang Dalom Hajji Merahdani Gelar Sultan Makmur Dalom Natadiraja, seorang ulama yang sering dipanggil Tuan Guru. Maka nafas kehidupann masyarakat menjadi sangat Islami, termasuk rangkaian malaman pitu likukh diisi acara cekung kelukkup yaitu membunyikan kayu bulat berdiameter sekitar 50 cm sepanjang dua meter yang telah dilubangi di bagian tengah sehingga menimbulkan suara dan irama merdu," kata Edward.

Sementara menurut Juru Bicara Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong, Seem R Canggu Gelar Raja Duta Perbangsa mengatakan tradisi malaman pitu likukh di Bumi Sekala Brak, dahulunya di bawah pimpinan empat umpu yang diangkat menjadi SaiBatin dilakukan dengan membakar batok kelapa pada setiap malam 27 Ramadan, menyambut turunnya para malaikat ke bumi yang menandai malam lailatul qadar. SaiBatin berkumpul dengan para penduduk negeri untuk melakukan memuja Allas Swt, bermunajat untuk keselamatan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Selanjutnya  Pada malam menjelang 1 Syawal yang disebut "malaman buka dibi" kembali dilakukan benderang negeri dan seluruh penduduk diimbau berkumpul di masjid dan surau untuk melantunkan takbir, tahmid, dan zikir. ”Pada malam sebelumnya, Saibatin menitahkan agar seluruh penduduk mandi mit duway beelimau membersihkan diri untuk persiapan melakukan salat Id keesokan harinya," kata Seem.

Wakil Panglima Panggittokh Alam Kabupaten Pringsewu mengatakan malaman pitu likukh mengingatkan dirinya ketika masih berusia sekitar delapan tahun, saat pulang ke Sekala Brak. Memasuki bulan puasa, sebagian anak-anak mengisi waktu mencari batok kelapa ke belakang rumah untuk dikumpulkan sebagai persiapan merayakan malaman pitu likhuk. ”Ya sikindua lagi ngingok waktu umukh 8 tahun. Khanno kukhuk bulan puasa keliling jak kudan mid kudan nyepok undom mana haga pakai malaman. (saya ingat waktu umur 8 tahun, saat memasuki bulan puasa mencari batok kelapa dari belakang rumah yang satu ke belakang rumah yang lain, untuk persiapan malaman,” ujarnya.

Kelukkup Alat Komunikasi

Menurut  Fauzie Fattah, kelukkup merupakan kayu bulat yang dilubangi tengahnya untuk menimbulkan bunyi keras. Kelukkup merupakan alat komunikasi masyarakat yang ditempatkan di samping masjid dan tidak boleh dibunyikan sembarangan.

Kelukkup hanya dibunyikan jika ada musibah atau persoalan yang harus diketahui seluruh masyarakat, yaitu ketika ada warga kampung yang meninggal dunia, kebakaran, atau keributan sehingga warga yang mendengar bunyi kelukkup segera datang. Khusus di bulan Ramadan, kelukkup digunakan membangunkan warga sahur serta untuk cekung di malaman pitu likukh.

“Ini makna bunyi kelukkup, mengabari kalau ada warga meninggal, bunyinya  santai tuuuung ....... tung ....... tung ... kalau  ketutungan atau kebakaran serta wat gagakhah atau keributan, kelukkup tabuh sassah bunyinya tidak tertata dan terus menerus sampai semua masyarakat kumpul  .... tung tung tung ..... tung tung tung ..... tung tung tung," ujarnya.

PENULIS

Aripsah

TAGS


KOMENTAR