BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Musala kecil di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjungkarang terlihat bersih, sejuk, dan tertata dengan rapi. Selain sebagai tempat beribadah, musala juga kerap dijadikan tempat beristirahat para pengunjung pengadilan karena merasa nyaman suasana dengan kondisi musala.
Musala berukuran 10 x 10 meter tersebut selalu terlihat bersih. Kondisi yang selalu bersih tersebut berkat sentuhan seorang anak kecil yang kerap disapa Dani oleh petugas pengadilan terbesar di Lampung itu.
Dani tinggal bersama neneknya, Purwati Ningsih (60), di sebuah kantin kecil milik Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Aktivitasnya sama seperti kebanyakan anak sebayanya, menjelang pagi pergi menuntut ilmu di sebuah sekolah dasar negeri tidak jauh dari kantin kecil neneknya itu.
Sepulang sekolah, Dani membantu aktivitas neneknya berdagang, tidak pernah terlintas sedikit pun Dani berhura-hura seperti kebanyakan anak lainnya. Jika kantin neneknya sepi pengunjung, si Dani kecil mengambil alat kebersihan untuk membersihkan musala kecil tepat di depan kantin sang nenek.
Ketika azan dari musala berkumandang, Dani menjadi jemaah termuda saat salat berjemaah hampir setiap hari. "Kalau siang nenek enggak ada kerjanya, saya bersih-bersih di musala. Pas sore ngaji, pas magrib saya pulang salatnya di sini," kata Dani.
Terkadang meski suasana hujan, Dani tetap merelakan tubuh kecilnya diguyur deras air hujan demi membersihkan musala dari sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Dani tidak mau menyebutkan berapa nilai uang yang diberikan pengadilan setiap bulannya dari membersihkan lingkungan musala itu. Namun, Dani menyebut bukan soal nilai uang yang diberikan, melainkan sebuah pahala yang membuatnya tetap membersihkan tempat ibadah itu.
"Biar Tuhan saja yang membalasnya. Enggak apa-apa juga kalau enggak dikasih uang. Saya hanya ingin mendapat pahala. Lagian kan kalau bersih enak dilihatnya," kata Dani malu-malu. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR