BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Maiyah Dusun Ambengan kembali menggelar kajian budaya dan agama edisi 15 Desember di Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur.

Emha Ainun Najib dalam esainya berjudul Agamateralisme, menyebut bebendhu tan kasat mata, pepeteng kang malih rupa. Tampak seperti Agama, padahal materialisme. Tidak terasa materialisme, karena wajahnya Agama. 



Cak Nun menggambarkan bahwa mayoritas penduduk bumi modern adalah pemeluk agamaterialisme. Maksudnya, agama dimaterialkan dan material telah diagamakan. Prinsip manusia modern adalah berpegang teguh pada materialisme. Konsep tersebut, utamanya memegang teguh bahwa niat dan tujuan hidup semata-mata pada kenikmatan-kenikmatan material. 

Dunia modern, di dalamnya generasi milenial, pelan-pelan menjelma dan menyatu pada konsep materialisme. Mereka hadir dan akan mati dalam gelombang-gelombang kefanaan. Mereka juga selalu mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan bisa dibawa mati. Dengan penuh ambisi dan menyampingkan bisikan hati.

Entah dari mana asalnya, sebagian anak-anak kita yang sedang sekolah di TK dan SD, selalu mencita-citakan menjadi dokter, presiden, polisi, pilot atau yang lain. Mereka mencitakan sebuah profesi, bukan mencitakan sebuah fungsi. Mereka melihat bahwa identitas hanyalah satu-satunya yang harus diperjuangkan melalui bangku sekolahan. 

Semakin beranjak dewasa, mereka tidak memiliki tujuan yang lain kecuali yang telah terbentuk di sekolahan. Menjadi pilot adalah sebuah keberhasilan, dan menjadi tukang tambal ban adalah kenestapaan karena kekalahannya dari keinginan menjadi seorang pilot.

Sehingga, seorang bapak pilot pesawat terbang akan memaksa anaknya menjadi pilot pesawat allien. Begitu juga, seorang bapak tambal ban akan memaksa keinginannya kepada anaknya untuk menjadi pilot, sesuai kegagalan ambisi bapaknya tersebut. Sehingga, yang terjadi adalah Fastabaqul-dunia. semakin seperti itu dan pada akhirnya mereka saling membunuh sesama manusia. 

Sebagai sebuah ide, konsep materialisme sebenarnya mengingkari akan hadirnya Ilahi. Sehingga, pengingkaran ini berefek pada hadirnya kapitalisme, egoisme, hingga kolonialisme. Dan dalam keadaan demikian, tak ada yang lebih asasi kecuali diri sendiri. 

Panitia kegiatan, Yono, mengajak masyarakat untuk sama-sama berdiskusi mengenai tema di atas dengan melingkar sinau dan bergembira bersama tentang (Age)man di Rumah Hati Lampung, pada Sabtu 15 Desember 2018, Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur jam 19.30 WIB.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR