BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Maiyah Dusun Ambengan yang bertempat di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Desa Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur, akan menggelar kajian budaya dan dakwah agama pada Sabtu, 15 September 2018, petang.

Kajian yang akan dipaparkan dalan diskusi tersebut terkait dengan filosofi yang dituangkan R.M.P sosrokartono, yakni Sugih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji, Trimah mawi pasrah, dan Sepi pamrih tebih ajrih (kaya tanpa harta, digdaya tanpa kesaktian, menerima secara pasrah, tidak pamrih jauh dari takut).



Menurut Yono, salah satu panitia kegiatan kepada Lampost.co, Rabu (12/9/2018), bahwa Maiyah Dusun Ambengan, adalah sebuah acara diskusi kebudayaan, yang digelar rutin bulanan setiap hari Sabtu malam di minggu ke-2 tiap bulannya. Diskusi bertempat di Rumah Hati Lampung Dusun 4 Margototo Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur.

Kegiatan ini merupakan ajang belajar bersama yang betitel “Sinau Kebudayaan”. Menyuguhkan kajian-kajian beragam tematik keilmuan, persoalan-persoalan real keseharian masyarakat terkait sosial, ekonomi, seni budaya, dan keagamaan. 

Acara bersifat terbuka untuk umum yang dapat diikuti oleh siapa saja, dari kalangan apa saja, tanpa membedakan umur, pendidikan, profesi, suku, agama, golongan dan lain sebagainya, ujarnya.

Hakekat kegiatan mengutamakan kebersamaan, saling berbagi ilmu, kemesraan sosial, dan pencerahan kemanusiaan. Tidak memiliki agenda atau tujuan politik, tidak bertendensi atau berafiliasi kepada kepentingan-kepentingan praktis apapun, kecuali semata-mata berusaha mencari kebenaran sejati menuju martabat dan derajat kehidupan yang diridhoi Allah swt.

Tema pada Sabtu mendatang mengupas apakah "Sugih tanpo bondo" dapat dipahami dengan logika material modern? Apakah sistem politik era industri ke- 4 dapat memahami "digdoyo tanpo aji"? Apakah "Trimah mawi pasrah, sepi pamrih tebih ajrih," menjadi prinsip hidup manusia generasi renaisans?

Jika penciptaan manusia bukanlah suatu perbuatan sia-sia, maka perbuatan tersebut pasti memiliki tujuan. Jika tujuan telah ditetapkan, segala instrumen dan perangkatnya juga telah disediakan. Karena, menjadi kemustahilan bahwa suatu perintah tidak dibarengi dengan perangkat pelaksananya. Rute, guide leader, kendaraan, logistik, dan kemampuan diri untuk mengelola, menjadi bagian yang tak terpisahkan pada tugas mencapai tujuan hidup manusia.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR