SUKADANA (Lampost.co) -- Memasuki Agustus, biasanya masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, selalu antusias menyambut dan memperingati satu hari bersejarah, yaitu hari kemerdekaan Indonesia. Hari kemerdekaan mempunyai tempat spesial di hati masyarakat Indonesia. 

Masyarakat desa bergotong royong mempercantik dan menghias rumah serta lingkungan sekitar dengan berbagai macam bentuk hiasan untuk menyemarakkan hari kemerdekaan. Mulai dari mencari dan membuat patok jalan dari bambu, mengecat dengan kapur gamping, memasang umbul-umbul, sampai membuat bendera kecil ataupun kantong-kantong plastik yang diikatkan di sebuah tali yang kemudian dibentangkan di sepanjang jalan. 



Menyemarakkan momen hari kemerdekaan Indonesia ini, Majelis Maiyah Dusun Ambengan akan mengadakan kajian bulanan yang mengangkat tema Kamardikan pada Sabtu (18/8) mendatang, pukul 19.00, di Rumah Hati Lampung, Dusun IV Margototo, Metrokibang, Lampung Timur. Kajian edisi ke-36 ini digelar berbarengan dengan milad Ambengan yang ke-3.

Pimpinan Majelis Maiyah Dusun Ambengan, Cak Sul mengatakan pihaknya mengambil tema kamardikan pada kajian bulanan Maiyah Ambengan karena khawatir semakin lunturnya makna kemerdekaan dan nilai-nilai kemanusiaan pada era masyarakat modern saat ini.  

“Makna merdeka itu bisa menjadi sangat rumit dan njlimet di tengah kehidupan masyarakat modern. Di era globalisasi dan arus informasi yang begitu liar menjejali seperti sekarang, tuntutan akan kehidupan yang lebih baik telah melunturkan nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana tujuan awal manusia diciptakan, yaitu menyebarkan kebaikan,” kata Cak Sul dalam rilis yang diterima Lampost.co, Senin (13/8/2018). 

Ia menjelaskan kamardikan atau kemerdekaan berasal dari bahasa Sansekerta mardika, yang berarti pandai, terhormat, bijaksana, dan bebas atau dalam arti lain sebuah keluasan bagi diri pribadi untuk terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak mana pun. 

Cak Sul pun berharap masyarakat desa tidak terkungkung dan terjajah dalam pusaran kontestasi kehidupan yang mereka ciptakan sendiri. 

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR