MALAYSIA (lampost.co) -- Koalisi Pakatan Harapan menyatakan telah memenangkan kursi yang cukup untuk membentuk pemerintah federal. Pemimpin Koalisi Pakatan Harapan Mahathir Mohammad mengklaim akan dilantik secara resmi sebagai Perdana Menteri Malaysia. 

"Istana telah menghubungi kami, karena mereka mendengar bahwa kami telah mencapai mayoritas," kata Mahathir dalam siaran pers sebagaimana dilansir thestar.com.my, Kamis (10/5/2018). 



Meski demikian Mahathir mengaku belum memiliki calon wakil perdana menteri. Mahathir akan menentukan sosok pendamping usai melakukan sumpah jabatan. 

"Saat ini kami belum memiliki perdana menteri, sampai dia bersumpah, tetapi tidak bersumpah seperti itu. Kecuali setelah perdana menteri disumpah, maka ia dapat menunjuk wakilnya dan menteri lainnya," kata Mahathir sambil bergurau. 

Hasil ini mengakhiri lebih dari 60 tahun kekuasaan pemerintahan di bawah tangan koalisi Barisan Nasional. 

Setelah terpilih menjadi perdana menteri, pria yang biasa disapa Dr. M itu juga berjanji mencari pengampunan pemimpin de-facto Partai Keadilan Rakyat (PKR) Datuk Seri Anwar Ibrahim. Pengampunan itu nantinya bisa digunakan Anwar Ibrahim untuk menjadi anggota parlemen kembali. 

"Begitu dia diampuni, dia akan memenuhi syarat untuk berdiri sebagai Perdana Menteri. Tapi, dia masih harus mencalonkan diri untuk pemilihan menjadi anggota parlemen. Karena di negara kita, seseorang harus menjadi anggota parlemen atau senator terlebih dahulu." kata Mahathir. 

Koalisi Pakatan Harapan berhasil memenangkan mayoritas kursi di parlemen. Sebagai oposisi mereka berhasil melebihi batas minimal kursi suara untuk perdana menteri yaitu 122 per 222 kursi yang tersedia. Koalisi oposisi ini melewati batas minimal 112 kursi. Hal ini merupakan sejarah bagi rakyat Malaysia yang sekitar 60 tahun hidup dibawah rezim koalisi petahana Barisan Nasional. 

Rakyat Malaysia senang dengan terpilihnya Mahathir sebagai Perdana Menteri anyar. Mahathir yang sudah tidak muda mendapat simpati dari anak muda malaysia karena dianggap tokoh yang bijak dan tidak memiliki kepentingan. 

 

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR