GRUP pesan WhatsApp terasa lebih ramai saat akhir pekan. Apa pun grupnya, baik itu grup teman kerja, grup keluarga, grup alumni sekolah, apalagi grup teman-teman sepermainan futsal, tak luput dari pembahasan soal si kulit bundar.

Saling berbalas komentar antarpeserta selalu tersaji di grup karena penghuninya memiliki tim kesayangan yang berbeda-beda. Contohnya pada akhir pekan kemarin saat Liga Inggris menyajikan partai Manchester City melawan Manchester United (MU).



Dalam pertandingan itu, euforia fan City yang unggul dua gol di babak pertama berbalik menjadi cemoohan saat MU membalikkan keadaan di babak kedua. Tak tanggung-tanggung, MU melesakkan tiga gol ke gawang City. Alhasil, skor akhir 3-2 untuk MU.

Saling lontar komentar pun terjadi. Umumnya pendukung City menuding wasit memimpin laga dengan berat sebelah, sementara suporter MU puas lantaran sukses menunda pesta City merengkuh gelar Liga Inggris yang sudah di depan mata.

Teman lain, termasuk saya, yang mendukung selain kedua tim tersebut, biasanya tak banyak berkomentar. Kami hanya sesekali menjadi “kompor” nimbrung di obrolan untuk menghangatkan suasana.

Terkadang, jika salah menulis, alih-alih memberi komentar, malah serangan balik bakal yang bakal kami terima. Namun, tak seperti menerima olokan dalam konteks pembicaraan lainnya, saya merasa serangan kata-kata itu justru memberikan kedekatan personal antaranggota grup.

Walau terkadang bikin sedikit naik tensi, pembahasan mengenai sepak bola seakan menghidupkan obrolan yang sebelumnya “hening”. Tidak sebatas di grup media sosial, saat kemudian bertemu pun, pembahasan itu seakan menjadi topik menarik untuk diobrolkan kembali.

Ini menjadi semacam bukti magis sepak bola; pembahasannya selalu menarik bagi banyak orang. Ketika kita mengobrol dengan rekan yang baru kenal, obrolan soal sepak bola seakan menjadi pemecah kecanggungan. Bahkan, saya dan kelima anggota keluarga laki-laki lainnya bisa duduk satu tongkrongan di depan televisi. Dan, bagi saya, itu menjadi momen emosional yang begitu berharga.

Pengetahuan tentang bola seakan menjadi jurus wajib yang mesti dikuasai. Sebab, itu semacam bumbu pergaulan agar interaksi dengan teman atau kerabat menjadi semakin sedap. Kuncinya, lontaran komentar harus didasari sikap respek! Kalau sudah menjurus kata-kata sarkas, itu lain cerita, hehe.

Untuk urusan berbisnis pun, pengetahuan sepak bola juga perlu menjadi modal. Saya teringat dengan dua teman saya yang gagal bertransaksi jual-beli karena tak paham urusan bola.

Ceritanya, si teman yang mengidolakan AC Milan memesan seprai berlogo klub bernuansa merah-hitam tersebut kepada si penjual. Si penjual mengiyakan. Esok harinya, si penjual membawa seprai dagangannya dan memberikannya kepada si teman.

Namun, si teman menolak barang itu! Sebab, ternyata seprai yang diberikan si penjual malah berlogo Juventus dengan corak belang hitam-putihnya. Karena dikembalikan, si penjual tersinggung. Sambil menggerutu, si penjual bersungut-sungut, “Saya udah capek-capek bawa kok dikembalikan! Padahal, ini kan sama-sama sepre bola juga!”

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR