APABILA pemenuhan gizi sehari-hari mengikuti pedoman empat sehat lima sempurna, hal pertama yang harus dikonsumsi adalah makanan pokok berkarbohidrat, seperti nasi, jagung, singkong, atau sagu. Berikutnya sayur-mayur, lauk-pauk, buah-buahan, dan susu.

Dalam penerapannya sering terjadi saling klaim antara sayur-mayur dan lauk-pauk, terutama pada masa sulit 1970-an. Saling klaim itu terjadi ketika seorang ibu memasak sayur kacang panjang campur tempe dan tahu berbumbu santan, sedangkan lauknya tempe goreng dan tahu goreng. Mana sayur dan mana lauk? Itu hanya bisa dijawab oleh yang memasak.



Pada masa itu hanya keluarga tertentu yang bisa menyantap daging sapi. Telur pun sulit didapat. Andaipun ada telur di kandang, lebih baik ditetaskan dan dipelihara sebagai ayam untuk dijual setelah besar. Masa-masa sulit itu pun berlalu. Kemajuan teknologi peternakan memungkinkan untuk memelihara ayam keturunan asing sebagai ayam petelur yang produktif.

Harga telurnya pun terjangkau. Di saat harga daging sapi masih bertengger di atas Rp100 ribu per kilo, telur yang juga mengandung protein tinggi dapat diandalkan sebagai lauk pengganti. Berbagai menu telur tidak saja menjadi lauk-pauk sehari-hari masyarakat, tetapi juga untuk keperluan lain. Semisal menjadi bahan utama berbagai jenis roti dan kue.

Itu sebabnya telur termasuk komoditas yang sensitif menimbulkan gejolak. Sedikit saja ada kenaikan harga, dampaknya akan merembet ke mana-mana. Emak-emak tidak begitu pusing saat harga daging atau ikan naik. Namun, kalau harga telur yang naik, mereka pasti menjerit.

Situasi inilah yang harus dicermati pemerintah. Usai Lebaran 2018, harga telur naik tajam dari Rp20-an ribu menjadi Rp30-an ribu. Kenaikan harga telur dipicu naiknya harga pakan akibat pelemahan kurs rupiah yang sempat menembus Rp14 ribu/dolar AS. Hampir sebagian besar komponen pakan ayam, antara lain bungkil kedelai, tulang, daging, suplemen, vitamin, dan antibiotik, harus diimpor.

Tingginya harga telur juga dipicu gangguan di sisi suplai. Menurut para ahli, akhir-akhir ini merebak virus subtipe Avian influenza H9N2 yang tidak menular ke manusia. Ini virus strain baru yang ditemukan pada virus Avian influenza selain H5N1. Di sejumlah daerah, penurunan produksi telur akibat virus tersebut bisa mencapai 30%. Ringkas kata, ayamnya tidak mau bertelur.

Apa pun alasannya, pemerintah harus bekerja menurunkan harga telur karena dampaknya menyasar telak ke emak-emak. Seperti lazimnya emak-emak, mereka pasti berteriak jika ada sedikit saja kenaikan harga komoditas pokok keperluan dapur. Bakal repot melawan emak-emak. Jangan sampai mereka berunjuk rasa di jalanan sambil membawa poster besar bertuliskan ‘Turunkan Harga Telur’ atau ‘Berantas Mafia Telur’!

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR