ADUH, kok lagi-lagi macet ya di rute yang saya telusuri ini setiap harinya, Telukbetung—Rajabasa! Ujian kesabaran dimulai lagi. Baru saja bernapas lega setelah berbulan-bulan ujian dengan kemacetan di proyek pembangunan flyover Mal Boemi Kedaton (MBK), kini harus berjibaku macet lagi dengan proyek underpass Unila.

Saya harus melintas di ruas jalan yang berimpitan dengan kendaraan lain, baik roda dua maupun mobil dan bus besar. Panas terik ditambah kemacetan dan deru asap kendaraan jelas membuat pusing kepala. Emosi juga berkecamuk karena masing-masing kendaraan mau saling mendahului.



Saya pun kerap tersulut emosi dengan kondisi macet gini karena kendaraan yang saya tumpangi kerap menyalip-nyalip jalan yang membuat deg-deg-ser.

Senggol-senggol spatbor belakang motor pun jadi hal lumrah. "Sudah sih, hati-hati aja, enggak enak lo direm-kejut tiap meter," ucap saya. Palengnya lagi malah dijawab dengan penunggang motor. "Udah sih diem aja, yang penting nyampe!" cetusnya.

Itu baru sepekan saja saya rasakan kemacetan, belum lagi masih ada sekitar delapan bulan ke depan yang harus dilalui untuk ujian kesabaran ini. Sebab, pembangunan proyek underpass Unila ini memakan waktu hingga akhir tahun ini.

Pembangunan underpass, terhitung yang kedua di Kota Tapis setelah undepass di Jalan Hanoman yang berlintasan dengan rel kereta api menelan dana yang tak sedikit. Proyek senilai Rp35,4 miliar dan dikerjakan oleh PT Sang Bima Ratu itu dijadwalkan rampung dapat Desember 2018.

Upaya mengatasi kemacetan lalu lintas di lokasi ini pun dilakukan pemangku kebijakan setempat dengan mengimbau pengendara untuk menempuh jalur alternatif. Seperti lewat Jalur Soekarno-Hatta (bypass) atau lewat jalur tikus yang jalannya lebih kecil dan jarak tempuhnya lebih panjang.

Namun, kenyataannya jalur alternatif pun senasib dengan jalur utama tadi, sama-sama padat merayap. Jujur saja, saya sendiri tidak mudeng dengan skema underpass ini. Namun, berdasarkan infromasi dari pengembang proyek, underpass akan memfasilitasi kendaraan yang dari atau hendak ke Tanjungkarang—Rajabasa tanpa harus berhenti karena lampu lalu lintas.

Artinya, kendaraan dari arah Tanjungkarang hendak ke arah Rajabasa atau Natar bisa lewat jalur bawah underpass. Dari Tanjungkarang hendak ke Ramayana Mal Lampung maupun ke Unila, bisa lewat atas underpass. Juga, akan ada putaran balik (U-turn) untuk bisa langsung ke Unila. Ada juga yang ke Ramayana, jadi tak masuk ke underpass.

Memang harus ada yang dibayar setiap ada pembangunan, termasuk dibayar oleh kemacetan lalu lintas. Dan, semoga hasilnya menjadi lebih baik lagi, terutama bertujuan mengurai kemacetan di lokasi tersebut.

Ya, ya, ya..., satu kunci jawaban atas persoalan ini adalah sabar. Kalau sewaktu pembangunan flyover MBK saja bisa sabar, maka di underpass Unila ini tak sabar sih, kata saya menghibur hati sambil berdoa agar proyek cepat selesai dengan pekerjaan tetap sempurna.

 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR