GUNUNG SUGIH (Lampost.co)-- Mbah Wito yang nama aslinya Rasiyem, nenek renta dan kurang mampu warga Dusun 6 Desa Gunung Agung, Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah ini berusia 104 tahun. Mbah Wito hidup prihatin di gubuknya. Sehari-hari ia bertahan hidup dengan turun ke sawah, memburu keong dan kangkung liar. Bagi Mbah Wito, tak ada waktu memperhtikan hiruk-pikuk dunia luar. Apalagi dunia politik yang tak ia mengerti. Sebab itu, ia terkejut saat M. Ikhsan datang mengunjungi rumahnya. Matanya berkaca-kaca ketika tahu sosok pria sederhana, berperawakan tinggi besar yang turun dari sepedamotor dan berjala n ke rumahnya itu adalah Bakal Calon Bupati Lampung Tengah 2020-2025.

Kunjungan M. Ikhsan menemui Mbah Wito, Kamis (25/7/2019), sebenarnya tak terjadwal. Usai bersilaturahmi dengan Kepala Kampung Gunung Agung Nizar Adhita dan tokoh masyarakat Gunung Agung, Balkini Kraeng (mantan Kepala Kampung Gunung Agung yang menjabat selama 28 tahun), ia mendapat informasi soal Mbah Wito. Dalam perjalanan menuju kampung itu, M. Ikhsan mendapat telepon dari Gatot Sunyoto atau akrab disapa Pakde Nyoto, tokoh masyarakat, tentang keadaan Mbah Wito yang hidup prihatin di gubuknya dan sehari-hari bertahan hidup dari hasilnya turun ke sawah berburu keong dan kangkung.



Untuk menuju Dusun 6 Gunung Agung, Ikhsan harus mengendarai sepedamotor bersama warga sejauh sekitar 1 km dari kediaman Pakde Nyoto. Sebab akses jalan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Tiba di gubuk Mbah Wito, Ikhsan disambut warga yang sedang bergotong-royong membangun pondasi rumah Mbah Wito. Ikhsan menyaksikan kondisi gubuk Mbah Wito yang memprihatinkan. Tiang kayu yang menyangga gubuk itu rawan rubuh. Dinding geribik yang lapuk membuat angin malam mudah masuk membawa hawa dingin menusuk tubuh tuanya.

Tampak sekali, rumah itu tak layak huni dan membahayakan penghuninya. Di rumah berukuran 4x4 meter berdinding geribik inilah Mbah Wito hidup dan menafkahi dua cucu dan tiga cicit serta seorang menantu. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, Mbah Wito tiap hari turun ke sawah memburu keong dan kangkung liar untuk dijajakan keliling ke tetangganya. Penghasilannya dalam sehari tidak besar.  Paling banyak Rp40 ribu, tetapi berkah untuk semua keluarga. "Kalau hasil ga pasti," ujar Mbah Wito pendek.

Sejak suaminya meninggal 19 tahun lalu, Mbah Wito yang lahir di Wonosari, Yogyakarta, hidup prihatin dengan segala keterbatasan. Ia tak pernah mengharapkan bantuan dari pemerintah. Sebaliknya berjuang mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dari keringat sendiri. M. Ikhsan mengatakan, Mbah Wito adalah salah satu dari sekian banyak warga kurang mampu yang membutuhkan uluran tangan dari sesama. Kehadirannya di kediaman Mbah Wito dan mengulurkan bantuan memang sudah menjadi kewajiban sebagai saudara sesama warga Lampung Tengah. "Saya mendapat kabar dari Pakde Nyoto tentang Mbah Wito yang hidup memprihatinkan. Kebetulan dekat dengan lokasi silaturahmi, segera saya putuskan mengunjungi Mbah Wito. Semoga sedikit sedekah dari kami bermanfaat untuk menambah kebutuhan membangun rumah Mbah Wito, makan-minum dan berobat beliau," tutur M. Ikhsan. Pakde Nyoto mewakili warga mengucapkan terima kasih atas kepedulian M. Ikhsan kepada Mbah Wito.

"Bantuan dari Pak Ikhsan sangat bermanfaat meringankan warga yang bergotong-royong membangun rumah layak huni untuk Mbah Wito. Saya kagum dengan respon cepat Pak Ikhsan menolong warga," tutur Pakde Nyoto. M. Ikhsan mengaku salut dengan Warga RT 18 Dusun 6 Kampung Gunung Agung. Dikoordinir Pakde Nyoto dan Ketua RT serta didukung Polsek Terusan Nunyai, dengan tulus ikhlas membangun rumah layak huni berukuran 5x8 untuk Mbah Wito.

"Gotong-royong adalah budaya sekaligus kekuatan masyarakat kita di kampung-kampung. Dengan bergotong-royong tak ada masalah warga yang tak dapat diselesaikan. Kita semua berharap budaya gotong-royong tetap lestari dan meluas di seluruh Lamteng. Kalau program pembangunan diwujudkan dengan semangat gotong-royong, pembangunan Lamteng bisa lebih cepat dan lebih baik," tutur Ikhsan.

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR