KALIANDA (lampost.co) -- Lantunan lagu dangdut terdengar nyaring di salah satu bengkel di Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (1/11). Tampak dua perempuan paruh bayah asyik mengamen di bengkel tersebut.
Sebelum mereka beraksi di depan bengkel itu, tampak perempuan pertama menuntun perempuan kedua yang melangkah lambat di belakang menuju bengkel. Perempuan kedua memegang musik boks modifikasi dan pelantang suara.
Namun, ada yang berbeda dengan perempuan kedua yang pandai bernyanyi itu. Di balik kepandaiannya melantunkan syair-syair dangdut, perempuan itu memiliki kekurangan. Tatapannya kosong.
Dia adalah Ludiyah (35), seorang wanita tunanetra. Meskipun tidak bisa melihat, ia amat pandai memainkan cengkok demi cengkok nada-nada dangdut yang ia nyanyikan.
Warga Desa Lebungnala, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, itu mengaku kesehariannya mengamen dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Begitulah ia mencari penghidupan.  
Ludiyah terpaksa turut andil mengais rezeki demi membantu sang suami, Paryanto (50), yang juga tunanetra. Ibu satu anak itu juga kerap berkeliling ke beberapa pasar tradisional setempat.
Bahkan, ia pun bersama sepupunya itu pernah menjejakan kakinya ke pasar di Rawajitu, Tulangbawang. Dalam sekali mengamen, ia mampu mengumpulkan uang sebesar Rp150 ribu per hari.
"Pendapatan Rp150 ribu itu belum bersih, Mas. Dari uang itu dipotong bayar ojek antar jemput Rp65 ribu. Kemudian, sisanya kami bagi dua bersama sepupu saya, Buti (34)," kata dia.
Ludiyah mengaku uang hasil dari mengamen itu biasanya ia pergunakan untuk keperluan sehari-hari seraya membantu sang suami dalam menafkahi keluarga.
"Saya gunakan untuk sehari-hari, Mas. Lumayanlah buat tambahan suami. Soalnya suami saya juga enggak bisa melihat. Adapun pekerjaannya cuma tukang pijit. Ya tahu sendirilah, Mas, penghasilannya," kata dia. 

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR