BANDAR LAMPUNG (lampost.co) -- Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung, kembali menerbitkan buku. Kali ini buku yang diterbitkan adalah tentang santri, yang berjudul "Santri dan Pendidikan Politik".

Pengurus LTN, Sunarto mengatakan penerbitan buku ini adalah upaya lembaganya untuk terus meningkatkan literasi di kalangan kaum muda NU dan generasi muda pada umumnya. Buku tersebut merupakan karya 27 penulis, yang diseleksi dari lomba artikel Hari Santri Nasional yang digelar oleh LTN NU Lampung beberapa waktu lalu.



"Sejak awal seleksinya sudah melibatkan tiga orang juri yang kompeten di bidangnya, yaitu Ketua MUI Lampung Khairudin Tahmid, akademisi Fakultas Hukum Universitas Lampung Rudy Lukman, dan ketua LTN yang juga jurnalis senior, Ila Fadilasari," kata Sunarto dalam rilisnya kepada lampost.co, Minggu (26/11/2017).

Ia juga menceritakan buku tersebut membahas mengenai pesantren dan santri dari berbagai sisi. Mulai dari pendidikan keagamaan, bagaimana pesantren mengatasi demoralisasi, pesantren memberi perilaku antikorupsi, peran politik santri jaman now, bagaimana menjadi santri kreatif di zaman modern ini, dan masih banyak lagi.

"Buku dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yang diberi tajuk Pesan dari Pesantren yang berisi 17 tulisan. Sementara bagian kedua bertajuk Pendidikan Politik Para Santri, yang terdiri dari 10 tulisan," kata Sunarto yang menjadi pengajar di Taman Pendidikan Alquran Nurul Islam, di Telukbetung, Bandar Lampung ini.

Sementara itu editor buku Santri dan Pendidikan Politik, Ila Fadilasari mengatakan, meski pesantren adalah model lembaga pendidikan tertua di Indonesia, yang kehadirannya sudah ada sejak zaman Walisongo, namun pembahasan tentang pesantren dan santri tetap selalu menarik. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang selalu mengikuti zaman, baik dari segi kurikulum maupun metode pengajaran.

"Pesantren adalah pembahasan yang tak pernah habis. Semakin menarik ketika pesantren dan santrinya dikaitkan dengan politik, baik tempo dulu, dan tetap aktual dalam kontek kekinian," katanya.

EDITOR

Ricky Marly

TAGS


KOMENTAR