KEDIRI (Lampost.co)--Lembaga Sensor Film Indonesia mengungkapkan film nasional saat ini sudah mulai bervariasi dengan munculnya beragam film yang mengangkat kearifan lokal di Indonesia.
"Membanggakan saat ini film Indonesia sudah mulai banyak dan penonton Indonesia mulai meningkat. Film Indonesia beberapa waktu lalu sampai 3 ribu saja susah, sekarang 4 ribu lebih, bahkan Dilan itu 5 juta sekian," kata Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki saat di Blitar, Jawa Timur, Kamis (19/4).
Ahmad mengatakan adanya sudah mulai bervariasinya film nasional atau film yang mengangkat budaya dan kearifan lokal ini terjadi selama dua tahun belakangan.

Ia mencontohkan, film nasional itu misalnya "Yo wis ben" yang digarap Bayu Skak dimana film ini menggunakan dialog bahasa Jawa, lalu film "Uang panai", film Indonesia yang dibuat di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang menceritakan tentang uang belanja untuk pengantin mempelai wanita dan ini tradisi adat suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Film-film tersebut juga membawa kearifan lokal di masing-masing daerah, membawa marwah kebudayaan Indonesia banyak berkembang.
Kendati film itu dibuat dengan kearifan lokal di daerah, Ahmad menyebut masyarakat di daerah lain tentunya juga ingin menonton. Ia mencontohkan film "Yo wis ben" dengan logat kental bahasa Jatim, bukan hanya masyarakat Jatim yang menontonnya, tapi juga di daerah lain tertarik.
Ia juga mengingatkan, dalam melihat film harus dipahami secara utuh dan tidak bisa sepotong-potong. Hal itu untuk memastikan bahwa film itu layak untuk ditonton oleh masyarakat luas ataupun harus ada klasifikasi umur.
"Film itu harus dipahami sebagai karya seni budaya. Bangsa Indonesia punya kearifan lokal untuk melihat film itu. Lebih dari itu, kami putuskan ada klasifikasi, semua umur tidak mungkin. Jadi, di LSF selain sensor juga mengajari ke masyarakat bisa memahami film secara proporsional," ujar dia.
Ia optimistis film Indonesia ke depan akan semakin beragam dan bagus. Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, sehingga ketika mengangakat film Indonesia juga serta merta mendorong lahirnya film yang bermuatan kearifan lokal budaya.



Ia juga mengingatkan agar masyarakat agar ikut berperan aktif untuk melakukan sensor, yaitu dengan sensor mandiri. Hal itu juga berdasarkan aturan bahwa setiap karya seni budaya punya kewajiban untuk sensor film. Setelah diputuskan tanda lulus, produk tersebut bisa disiarkan.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR