HAMPARAN pohon berduri (sepang) yang saling berkait itu membentuk semacam lorong. Jalan setapak itu juga dihiasi pohon dengan kayu agak keras dan berat yang berwarna putih kelabu biasa disebut gelam serta diselingi dengan menteru. Pemandangan eksotis seperti itu menjadi daya tarik di lokasi tersebut.

Namanya Lorong Segibew. Lokasinya terletak di Tiyuh Panaragan, Tulangbawang Barat. Tempat ini layak dikembangkan menjadi ekowisata. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) rencananya menata lokasi ini sebagai ikon wisata.
Untuk menuju ke sini bisa diakses dari belakang kantor camat Tulangbawang Tengah dan jalan baru TNI Manunggal. Lokasinya hanya berjarak 1 km dari simpang kantor bupati.



Di kala musim hujan, lokasi ini kian menawan karena dikelilingi air yang membentuk semacam danau dan sering menjadi tempat berswafoto warga setempat. Lorong yang memikat tersebut dilirik Bupati Tulangbawang Barat Umar Ahmad dan Wakilnya, Fauzi Hasan.
Untuk memastikan keindahannya, keduanya langsung meninjau lokasi bersama aparatur tiyuh. "Tempatnya indah dan layak menjadi lokasi wisata," kata Bupati saat meninjau lokasi tersebut beberapa waktu lalu.

Menurut Umar, untuk menjadikan Lorong Segibew sebagai lokasi wisata diperlukan penataan untuk memperindah lokasi dan membangun fasilitas pendukung seperti akses jalan serta lahan parkir.

"Lokasi ini kan sudah bagus, hanya perlu penataan agar orang yang datang betah dan ingin kembali ke lokasi ini."

Terkait konsep pengelolaan, kata dia, akan diserahkan kepada pemilik lahan serta pemuda dan pemudi Panaragan.


Dukungan

Rencana dikembangkannya Lorong Segibew ini didukung Kepala Tiyuh Panaragan, Zaibun. Dia berharap Pemkab dapat menjadikan lokasi tersebut menjadi ikon kabupaten.
"Lokasi ini banyak pengunjung kalau hari libur, terutama para kawula muda. Mereka kagum akan keindahan alam di lokasi ini," kata dia.

Hal senada dikatakan Zazuli, salah satu pemuda di tiyuh setempat. Dia mengatakan Lorong Segibew menjadi lokasi favorit para pemuda di wilayah setempat.
Zazuli yakin jika Lorong Segibew ditata akan menjadi wisata baru sebagai pendukung rencana pembangunan Q-Forest di sekitar aliran Way Kiri. "Pengunjungnya juga banyak dari luar tiyuh. Lokasi ini sudah mulai terkenal karena banyak yang mempromosikan melalui media sosial," ujarnya.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR