DI tengah beragam persoalan seperti krisis Korea Utara dan tragedi kemanusiaan Rohingya, mungkin tidak banyak yang mengetahui September ini menjadi momentum penting dalam dunia literasi di Tanah Air.
Tepatnya, peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang puncak peringatannya digelar di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Jumat 8 September 2017 lalu. HAI diperingati untuk "membuka mata" seluruh komponen masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan di bidang pendidikan bahwa masih banyak kalangan buta aksara di masyarakat kita. Peringatan HAI selayaknya diposisikan sebagai pengingat dan peningkat komitmen kita dalam memberantas buta aksara di Indonesia, khususnya di lingkungan terdekat kita.
Terkait dengan pemberantasan buta aksara, data dari Badan Pusat Statistik dan Pusat Data dan Statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 menunjukkan penduduk Indonesia yang telah beraksara mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen (3,4 juta orang) lagi yang masih buta aksara.
Dilihat dari persebaran angka buta aksara pada usia 15—59 tahun di masing-masing provinsi, masih terdapat 11 provinsi yang memiliki angka buta aksara di atas angka nasional, yaitu Papua (28,75%), Nusa Tenggara Barat (7,91%), Nusa Tenggara Timur (5,15%), Sulawesi Barat (4,58%), Kalimantan Barat (4,50%), Sulawesi Selatan (4,49%), Bali (3,57%), Jawa Timur (3,47%), Kalimantan Utara (2,90%), Sulawesi Tenggara (2,74%), dan Jawa Tengah (2,20%).
Sedangkan 23 provinsi lainnya sudah berada di bawah angka nasional. Jika dilihat dari perbedaan gender, tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar dibandingkan dengan laki-laki dengan perincian 1.157.703 laki-laki dan perempuan 2.258.990 orang.

Literasi Media Digital



Pada era ini, persoalan literasi atau keaksaraan tidak sebatas “di atas kertas”. Sesuai dengan kemajuan zaman, literasi telah bergeser dalam bentuk digital dengan dorongan internetisasi dan media sosial (medsos). Saat ini medsos sudah menjadi gaya hidup generasi milenial. Karenanya, sangat tepat ketika HAI tahun ini mengusung tema Literacy in a digital world atau Membangun budaya literasi di era digital.
Rasanya kita semua sepakat tema yang diangkat tersebut sangatlah tepat dan memiliki urgensi untuk diaktualisasikan. Terlebih dalam beberapa tahun terakhir, ada muncul kegaduhan demi kegaduhan yang berlangsung susul menyusul. Kegaduhan yang rawan memicu perpecahan itu terjadi karena sebagian masyarakat masih gagap menggunakan media digital.
Akibat literasi digital yang belum tersosialisasikan secara optimal, warganet (netizen) kita pun menjadi rawan dibohongi oleh berita bohong (hoaks) yang merusak. Juga rawan menimbulkan perpecahan karena ujaran kebencian (hate speech) yang merebak di dunia maya.
Selain itu, kemudahan yang disajikan internet/medsos juga berpotensi mendatangkan dampak negatif, antara lain pornografi, perjudian, kejahatan (khususnya penipuan dan prostitusi online). Juga menimbulkan persoalan mental masyarakat, terutama generasi muda dan pelajar berbenturan dengan masalah pengelolaan waktu serta serta ketergantungan akan gawai.
Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia 2016 menyebutkan terdapat 132,7 juta orang Indonesia yang sering terhubung ke internet. Dari jumlah tersebut, generasi muda dalam rentang usia 20—24 tahun dan 25—29 tahun memiliki angka penetrasi hingga lebih dari 80% pengguna internet.
Pada kategori usia 20—24 tahun ada sekitar 22,3 juta jiwa dan pada usia 25—29 tahun sekitar 24 juta jiwa. Disebutkan pula bahwa medsos merajai konten penggunaan internet dengan yang paling banyak diakses oleh warganet Indonesia. Tercatat juga, ada sekitar 97% orang Indonesia yang mengakses akun medsosnya ketika menggunakan internet.
Tidak dapat dimungkiri masyarakat dan generasi muda yang tumbuh di era milenial dewasa ini memang tidak dapat dilepaskan dari arus internetisasi. Gelombang penggunaan medsos sebagai media ekspresi dan komunikasi pun telah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat kita.
Dalam konteks untuk mengelola penggunaan internet dan medsos serta untuk membendung efek negatif keduanya, literasi media digital memiliki urgensi untuk diaktualisasikan. Terkait dengan literasi media digital, Yuni Retnowati dalam jurnal Perlindungan Anak dan Remaja (hlm. 327) menyebutkan literasi media merupakan perspektif yang digunakan ketika berhubungan dengan media untuk menginterpretasi makna suatu pesan yang diterima. Yakni, saat seseorang membangun perspektif tersebut melalui struktur pengetahuan yang terkonstruksi dari kemampuan menggunakan informasi (Potter, 2004). Media Awareness Network (2011) memperluas definisi literasi media meliputi media digital, termasuk yang berkaitan dengan komputer, gawai, dan internet.
Lebih lanjut, Allan Rubin (dalam Baran dan Davis, 2003) menawarkan tiga definisi mengenai literasi media. Pertama, kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi dan mengomunikasikan pesan. Kedua, pengetahuan tentang fungsi media dalam masyarakat. Ketiga, pemahaman akan batasan-batasan budaya, ekonomi, politik, dan teknologi terhadap kreasi, produksi, dan transmisi pesan.
Dari pemaparan di atas, secara sederhana literasi media dapat disebutkan sebagai edukasi atau sosialisasi agar masyarakat dapat secara cerdas dan bijak menggunakan media, terutama internet dan medsos. Cerdas dan bijak dapat diartikan sebagai keterpaduan antara unsur intelektual dan moral dalam mengakses media. Termasuk dalam hal pengelolaan waktu, energi, dan materi serta menguji kredibilitas dari media penyebar berita. Juga menilai berita yang disebarkan atau yang akan kita sebarkan.
Hal paling mendasar yang tidak boleh dilupakan adalah seputar penggunaan etika dan moral dalam menggunakan medsos. Terlebih, sebagai bangsa yang berideologi Pancasila, semestinya kita tetap sadar dan berkomitmen mengedepankan etika dalam berkomunikasi, baik di dunia nyata maupun maya.
Etika tersebut di antaranya tidak menebarkan kebencian dan kebohongan, tidak melecehkan suku agama, ras, dan antar golongan (SARA), dan bisa bertoleransi. Berikutnya, menyikapi segala bentuk perbedaan pendapat secara bijaksana dan dewasa tanpa harus menebar hujatan atau hasutan yang mengundang pertikaian.
Tentu saja, internet beserta turunannya harus bisa kita gunakan untuk kebaikan dan demi kemajuan. Namun harus diingat, kita pun jangan sampai terlalu kecanduan (ketergantungan) pada internet. Jangan pula menjadikan internet sebagai "berhala modern" yang berpotensi untuk merusak kita secara fisik, mental, dan spiritual, baik personal maupun sosial. Jika itu yang terjadi, internet dan medsos bukan menjadi berkah, melainkan musibah. Naudzubillah!

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR