LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 12 June
5533

Tags

LAMPUNG POST | Listrik Menyengat Rakyat!
Iyar Jarkasih, Wartawan Lampung Post. (Dok.Lampost.co)

Listrik Menyengat Rakyat!

JUMAT (9/6), sekitar pukul 10.30, seorang wanita paruh baya tampak kebingungan lantaran pintu kantor layanan pengaduan PLN Tanjungkarang di Jalan Pangeran Diponegoro tidak bisa dibukanya. Beberapa kali wanita itu berupaya mendorong, namun pintu tak kunjung terbuka. Ternyata, pintu tersebut memang terkunci dari dalam. Kantor pelayanan perusahaan milik negara itu sudah tutup. Itu terlihat dari kata bertuliskan “Tutup” yang terpajang di kaca pintu.

Dengan wajah tampak kecewa, wanita itu pun berlalu. "Sudah tutup sepertinya, Bu," ujar saya yang juga berada di tempat itu.

"Iya. Heran saya, padahal masih jam segini (10.30), tapi sudah tutup. Cepat banget waktu istirahatnya," ujarnya.

Wanita itu sengaja datang jauh-jauh dari Campangraya, Sukabumi, ke kantor milik negara itu untuk mengadukan tagihan listriknya yang membengkak dalam dua bulan terakhir. Ia menjelaskan rata-rata biaya yang dikeluarkannya untuk kebutuhan penerangan dengan daya 900 va sebelumnya hanya berkisar Rp150 ribu—Rp200 ribu per bulan. "Tapi bulan lalu saya kena Rp1 juta lebih untuk dua bulan. Terus, untuk bulan ini saja, malah tagihannya jadi Rp600 ribu lebih," kesalnya.

"Saya datang ke sini mau tanya apa tagihan itu sesuai dengan pemakaian listrik saya, tapi malah sudah tutup. Ya, sudah pulang lagi saja," ujar wanita yang sehari-hari berdagang makanan itu.

Kejadian tidak mengenakkan yang dialami wanita tersebut mungkin hanya contoh kecil. Bisa jadi, masih banyak peristiwa serupa yang dialami warga lainnya. Sudah terkejut terkena tagihan mahal, namun masih harus kesulitan mempertanyakan haknya.

Di media sosial permasalahan tarif listrik yang melonjak hingga berlipat-lipat pun cukup ramai diperbincangkan. Medsos pun seolah menjelma menjadi wadah paling populer untuk menyalurkan keluhan para konsumen perusahaan negara tersebut. "Gaji sebulan cuma buat bayar beli token listrik aja. Jadi, makan pakai listrik aja biar cepet marem," tulis seorang teman di status akun media sosial miliknya.

Teman lainnya pun menulis status yang hampir sama. "Alamak tagihan listriknya 308 K (Rp380 ribu)," ujarnya yang mengaku sebelumnya rata-rata hanya membayar Rp160 ribu per bulan.

Bagi orang-orang berduit, apalagi yang pembayaran listriknya dibiayai uang negara, lonjakan tarif penerangan itu mungkin bukan masalah. Namun, bagi kalangan menengah ke bawah yang harus memeras keringat dalam mencari rezeki, mahalnya biaya listrik yang harus dikeluarkan tiap bulan, pastinya terasa sangat menyengat.

Beban berat yang harus dipikul rakyat guna memenuhi kebutuhan penerangan tersebut, tentunya diharapkan dapat setimpal pula dengan pelayanan yang diberikan. Jangan sampai, rakyat kian menderita lantaran sudah jatuh, harus rela pula tertimpa tangga. ***

LAMPUNG POST

BAGIKAN


TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv