SEBANYAK 41.928 siswa dari 431 sekolah menengah kejuruan (SMK) negeri dan swasta se-Provinsi Lampung mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK) mulai Senin (2/4). Tahun ini seluruh SMK di Bumi Ruwa Jurai bisa menggelar ujian berbasis komputer meskipun ada beberapa sekolah yang harus menumpang ujian di sekolah lain.

Data Dinas Pendidikan Lampung menyebutkan dari 431 SMK di Lampung yang mengikuti UNBK terdapat 44 sekolah yang menumpang atau bergabung dengan sekolah lain karena keterbatasan fasilitas, terutama fasilitas komputer yang tidak memenuhi standar untuk sepertiga dari jumlah peserta UNBK.



Dibandingkan tahun lalu, cakupan UNBK tahun ini perlu diapresiasi. Dengan pelaksanaan ujian berbasis komputer di seluruh SMK, siswa makin mudah mengerjakan soal karena tidak lagi direpotkan mengisi lembar jawaban dengan pensil. Penggunaan komputer juga meminimalkan kesalahan dan pengoreksian jawaban jauh lebih cepat dan mudah.

UNBK juga jauh lebih menghemat anggaran negara. UN berbasis kertas  bisa menghabiskan anggaran mencapai Rp135 miliar, sementara UNBK hanya membutuhkan dana Rp35 miliar atau menghemat anggaran hingga 70%. Pemerintah tidak lagi disibukkan dengan urusan pencetakan dan distribusi soal.

Namun, yang disayangkan adalah kendala teknis yang hampir menghantui pelaksanaan UNBK dari tahun ke tahun, yakni pemadaman listrik dan masalah jaringan internet. Tahun ini pun masih terjadi pemadaman yang dialami sejumlah sekolah.

Meskipun setiap SMK sudah mengantisipasi dengan menyediakan genset, pemadaman listrik tetap menghambat pelaksanaan UNBK. Apalagi jika terjadi saat peserta UNBK sedang mengerjakan soal ujian. Petugas membutuhkan waktu untuk menghidupkan genset. Sekolah juga harus mengeluarkan biaya pembelian solar sebagai bahan bakar genset.

Salah satu sekolah yang mengalami pemadaman listrik adalah SMKN 6 Bandar Lampung. Pemadaman berlangsung selama 30 menit sebelum UNBK dimulai. Pihak sekolah kemudian menggunakan genset hingga akhir ujian untuk mengantisipasi pemadaman berulang. Selama menggunakan mesin genset sekolah telah menghabiskan 60 liter solar.

Berulangnya kendala pemadaman listrik dan jaringan internet menjadi masalah klasik. Pemerintah seperti tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya dan terus jatuh pada lubang yang sama. Seharusnya kendala ini bisa ditangani dengan baik jika memang ada keseriusan untuk mencari soal antarinstansi.

Pelibatan BUMN, terutama PLN dan Telkom dalam membantu pelaksanaan UNBK sudah sepatutnya dilakukan. Kementerian Pendidikan dan Dinas Pendidikan selalu meminta agar tidak ada pemadaman listrik selama UNBK, tapi hal itu tidak bisa direalisasikan.

Target 100% UNBK di seluruh jenjang pendidikan wajib diimbangi dengan persiapan yang matang. Jangan sampai siswa yang terus menjadi korban karena tidak beresnya pemerintah dalam melaksanakan ujian berbasis komputer.

EDITOR

Abdul Gofur

TAGS


KOMENTAR