KATA atau istilah “setan” sedang rada sensitif akhir-akhir ini. Namun, tulisan ini tidak membahas partai atau politik, tetapi problem stunting (generasi pendek) di negara yang kita cintai ini. Stunting mendapat perhatian dari Kepala Bappenas dan bahkan Presiden Joko Widodo dalam rapat di Istana Negara yang membahas khusus masalah ini.

Mengapa stunting perlu mendapat perhatian serius? Berbagai kajian ilmiah telah mengungkap dampak buruk stunting. Kemampuan kognitif anak stunting diketahui lebih rendah sehingga mengakibatkan rendahnya mutu SDM. Pada saat dewasa, anak stunting akan lebih mudah mengembangkan penyakit kronis (misal diabetes) yang akan menurunkan produktivitas kerja. Selain itu, stunting menyebabkan generasi yang akan datang lebih mudah gemuk.



Kalau kita menelaah stunting, pertama-tama yang harus kita cermati ialah tentang kondisi kehamilan kaum perempuan Indonesia. Dalam periode sembilan bulan yang sangat genting, ibu hamil harus mendapat asupan gizi cukup sehingga terhindar dari anemia maupun kurang energi kronis (KEK).

Tragisnya, ibu hamil penderita anemia di Indonesia masih cukup tinggi dan ini berpotensi pada rendahnya kualitas output kelahiran, yaitu berat bayi lahir rendah (< 2,5 kg). Bayi yang lahir kurang berat akan memunculkan gangguan pertumbuhan dalam periode anak-anak. Jadi, stunting sesungguhnya diawali kurangnya gizi saat ibu hamil.

Selanjutnya, periode anak balita yang sering disebut usia emas ternyata menjadi titik rawan bagi seorang anak untuk mengalami gangguan gizi. Problem kemiskinan, yang mendera 27 juta penduduk Indonesia, akan menekan akses pangan keluarga dan yang menjadi korban utama ialah anak balita.

Akibat Kemiskinan

Anak balita termasuk kelompok rawan (vulnerable group), yang berarti tumbuh kembangnya mudah dipengaruhi lingkungan sekitar, terutama ketersediaan pangan di tingkat keluarga. Kemiskinan akan melahirkan generasi stunting. Memasuki periode remaja, ancaman gizi yang mereka hadapi ialah anemia. Anemia hingga kini masih menjadi problem gizi yang paling sulit diatasi. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya asupan pangan hewani di kalangan masyarakat Indonesia.

Konsumsi ikan, telur, daging, maupun susu yang rendah merupakan cermin daya beli kita. Jadi, kalau saat remaja mereka sudah mengalami anemia, pada periode selanjutnya yakni dewasa muda hingga memasuki jenjang pernikahan, mereka akan senantiasa diintip problem gizi. Stunting menjadi lingkaran setan yang sulit diatasi, kecuali dilakukan intervensi berbasis pangan dan kesejahteraan untuk seluruh siklus daur kehidupan.

Generasi stunting akan mengalami keterbatasan wawasan karena secara intelektual mereka akan kalah jika dibandingkan dengan anak-anak yang pertumbuhannya normal. Kemampuan kognitif yang rendah akan mengancam daya saing generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, memerangi stunting harus mendapat perhatian serius pemerintah yang dikabarkan baru akan menggenjot pembangunan SDM pada 2019.

Kinerja posyandu yang merupakan ujung tombak program gizi di lapangan harus didongkrak. Citra bahwa posyandu hanya tempat penimbangan anak balita dan pembagian bubur kacang hijau sudah saatnya diperbaiki. Berbagai intervensi gizi seperti pemberian makanan pendamping ASI untuk anak balita harus dilakukan. Kalau hanya berupa biskuit, daya ungkitnya sungguh tidak kelihatan.

Anak balita tidak memerlukan makanan khusus karena mereka umumnya makan seperti anggota keluarga lainnya. Mereka minum susu, makan telur, makan daging ayam, makan ikan, dll. Jadi, kalau pendekatan food-based akan menjadi strategi pengentasan stunting, berikan saja akses pangan bagi keluarga miskin yang di dalamnya terdapat anak balita, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Salah satu program bantuan pangan yang bisa ditiru ialah yang dikembangkan Pemerintah AS sejak puluhan tahun lalu.

Metode voucer pangan sudah lama diterapkan di Amerika Serikat untuk membantu keluarga miskin di sana. Program Foodstamp atau program WIC (Women, Infants, and Children) ialah program yang sangat populer di Amerika. Program Foodstamp orang miskin di Amerika memperoleh voucer senilai uang tertentu yang kemudian dapat digunakan untuk membeli makanan apa saja yang diinginkan di setiap toko swalayan yang ada.

Program Pangan

Program WIC memberikan voucer yang di dalamnya sudah tercantum jenis makanan tertentu sebatas pada sereal, susu, telur, orange juice, dan peanut butter. Itu terjadi karena program WIC sasarannya ialah anak balita, ibu hamil, dan menyusui dari keluarga miskin. Jenis makanannya sengaja ditetapkan tertentu supaya dapat memenuhi gizi kelompok khusus ini.

Kalau saya perhatikan, penyelenggaraan program Foodstamp atau program WIC setali tiga uang dengan program subsidi pangan. Makanan yang dibeli melalui voucer sama persis dengan makanan yang tersedia sehari-hari di toko swalayan. Jadi, dalam hal ini orang miskin mendapatkan bantuan pangan gratis, sementara toko swalayan tetap mendapat penggantian dari pemerintah sesuai dengan harga yang berlaku di pasaran.

Dalam implementasi program voucer pangan ini, sesungguhnya bukan hanya orang miskin yang diuntungkan, melainkan voucer ini menciptakan pasar sehingga ekonomi atau perdagangan bahan pangan akan semakin menggeliat.

Kebijakan beras miskin (raskin), kini disebut beras sejahtera (rastra), dulu diberikan kepada masyarakat miskin berupa beras. Mulai 2017 telah diujicobakan bantuan pangan nontunai (BPNT) langsung ke keluarga miskin senilai Rp120 ribu per keluarga per bulan.

Komoditas pangan yang dapat dibeli dengan kartu BPNT masih sangat terbatas dan belum sepenuhnya berorientasi pada pengentasan masalah gizi atau pengurangan stunting. Diharapkan, model ini bisa semakin disempurnakan dan mendekati bantuan pangan seperti di Amerika sehingga problem stunting dapat segera diatasi.

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR