SEMARANG (Lampost.co)--Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi atau Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) memperkirakan distributed denial of service (DDoS) tetap menjadi ancaman paling serius pada 2019.

"Pada 2019 diperkirakan serangan siber akan lebih dahsyat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) Pratama Persadha melalui surat elektroniknya di Semarang, Minggu (6/1/2019) pagi.



DDoS merupakan sebuah usaha serangan untuk membuat komputer atau server tidak bisa bekerja dengan baik sehingga sangat berbahaya dan merugikan. Pratama memperkirakan intensitas penyerangan terhadap sistem keamanan biometrik akan terus meningkat. Hal ini karena makin populernya penggunaan autentikasi biometrik. "Autentikasi ini diklaim menawarkan tingkat keamanan yang kuat. Namun, pada kenyataannya justru memiliki kerentanan yang cukup berbahaya," kata Pratama.

Menurut dia, peluang inilah yang dimanfaatkan penjahat siber untuk mencuri informasi sensitif. Mereka tidak hanya mengambil keuntungan dari kelemahan autentikasi biometrik yang ditemukan, tetapi juga dari pengumpulan dan penyimpanan data. Ia mengutarakan bahwa kebocoran data biometrik juga dapat berbahaya bagi kedaulatan bangsa, misalnya data biometrik kartu tanda penduduk elektronik (KTP-el). Apabila data biometrik KTP-el bocor, kata dia, data tersebut dapat dimanfaatkan pihak asing atau pihak tidak bertanggung jawab untuk mengindentifikasi pribadi berdasarkan data biometrik yang didapatkan.

loading...

EDITOR

Dian Wahyu

TAGS


KOMENTAR