INGAR-BINGAR puncak pesta demokrasi sudah usai. Seabrek polemik yang muncul sebelum hingga menjelang hari H pencoblosan surat suara mewarnai hajat rakyat tersebut. Mulai dari maraknya kampanye hitam, meruyaknya ujaran kebencian dan hoaks di media sosial, hingga indikasi adanya politik uang.

Tentu, tersemat harapan dalam diri kita agar pada saat proses dan penghitungan suara tidak kembali timbul berbagai pelanggaran, baik dari pihak calon, KPU, ataupun Bawaslu, yang berpotensi mencoreng wajah demokrasi.



Sudah menjadi keniscayaan, setiap kontestasi pemilu melahirkan pihak yang menang dan pihak kurang beruntung. Walaupun dalam beberapa kasus, seperti di Pilkada Makassar 2018, yang menang justru kolom kosong. Apa pun hasilnya, itu adalah kemenangan rakyat.

Jika calon siap menang, dia pun harus siap kalah. Bagi pemenang, segala hak dan kewajiban yang disematkan kepadanya adalah amanah rakyat yang mesti diperjuangkan. Namun, bagi yang kalah, sikap legawa alias berlapang dada harus dikedepankan demi kemaslahatan yang lebih besar. Jika si kalah ikhlas menerima, sejatinya dia adalah pemenang dalam demokrasi.

Sebagai seorang negarawan yang muhsin, sudah sepantasnya keempat pasangan calon beserta pendukung menunjukkan kedewasaannya dalam berpolitik. Saatnya semua pihak bergandengan tangan untuk bersama membangun Provinsi Lampung menjadi lebih baik lagi—siapa pun yang terpilih.

Apabila dada sudah menerima segala keputusan, tidak ada lagi perang urat saraf, tak ada lagi ujaran kebencian yang berseliweran, tidak ada lagi aroma fitnah yang terlontar dari lisan maupun dari ujung jemari, dan tidak ada lagi hal-hal lain yang mengarah kepada kemudaratan. Bila rasa damai ini sudah tersemai, hidup pun akan terasa tenteram.

Islam telah memerintahkan kita untuk senantiasa melapangkan dada dalam menerima kondisi apa pun. Hal ini tertulis dalam Alquran Surah An-Nur Ayat 22 yang artinya, “Dan, hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” Selain itu, dijelaskan pula dalam Surah Al-Maidah Ayat 13 yang artinya, “Maka, maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Legawa memang tak semudah yang diucapkan. Terlebih, jika hal yang menimpa kita adalah masalah pelik yang sulit diterima akal sehat. Hanya dengan campur tangan Sang Maha Esa-lah kita bisa meyakinkan diri bahwa segala sesuatu yang terjadi tak lepas dari kuasa-Nya.

Usai beranjak dari bilik suara, kewajiban rakyat belum usai. Kita mesti terus mengawal pemerintahan agar berjalan sesuai alurnya. Kini saatnya kita raih optimistme, sisi positif, dan hikmah dari hasil pilkada ini untuk meraih kemaslahatan. Siapa pun yang terpilih, semoga mampu mewujudkan pemerintahan yang baik (good governance) di bumi Lampung. Amin!

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR