LAMPOST.CO--Ramadan 2018 berakhir. Mat Wenger menangis karena merasa belum maksimal melaksanakan rangkaian ibadah puasa. Dia juga merasa belum tentu bakal ketemu lagi dengan bulan suci dan penuh berkah tersebut.

"Bapak kok sedih, saya malah seneng enggak puasa lagi, kita Lebaran," kata Auba, anak Mat Wenger.



Wenger kemudian memberikan penjelasan kepada sang anak. Ramadan boleh saja berakhir, tetapi aktivitas-aktivitas yang dilakukan selama bulan suci tersebut tidak boleh ditinggalkan di bulan Syawal dan seterusnya. Ibadah Ramadan harus membekas dalam sanubari. Harus memberikan perubahan dalam diri umat Islam.

Kebiasaan tadarus Alquran tidak boleh hilang pasca-Ramadan, solat duha, qiyamul lail, infak, sedekah, serta menjaga amarah dan hawa nafsu juga harus terus dilestarikan di bulan-bulan setelah Ramadan.

"Anakku, ciri-ciri ibadah Ramadan kita diterima atau tidak itu akan terlihat setelah Ramadan. Kalau kita menjadi baik dan tetap melestarikan ibadah-ibadah itu, berarti kemungkinan besar ibadah Ramadan kita diterima Allah swt. Pun sebaliknya, jika ibadah kita kendur lagi dan maksiat lagi, itu adalah tanda-tanda puasa kita tidak diterima, kita hanya mendapat lapar dan haus," kata Mat Wenger kepada anaknya.

"Kalau Idulfitri atau Lebaran itu apa, Pak? Teman-teman suka nanya pada saya," tanya Auba, kepada sang ayah.

Secara harfiah, Idulfitri bermakna hari suci, sering diartikan hari kembali sucinya jiwa-jiwa umat muslim setelah menjalankan puasa dan berbagai rangkaian ibadah sebulan penuh selama Ramadan.

Perayaan Idulfitri di negara kita memiliki kekhasan tersendiri. Idulfitri yang sering diistilahkan dengan Lebaran ini tidak saja menjadi milik umat muslim secara eksklusif, tetapi telah menjadi kultur bangsa yang unik.

Masyarakat suka menyebut Hari Raya ini dengan istilah Lebaran, sebuah istilah yang khas bangsa Indonesia. Bukan saja secara istilah, rangkaian tradisi menyambut Hari Raya di Indonesia juga unik, sebut saja misalnya tradisi mudik, mengunjungi kampung halaman, dan bersilaturahmi kepada orang tua, sanak famili, guru, serta handai tolan.

Menurut JJ Rizal (2006), istilah Lebaran tidak saja berdimensi religi, tetapi sekaligus sosial-budaya-politik. Istilah yang dipopulerkan oleh orang Betawi ini—sepadan dengan istilah Jawa Syawalan atau Bada—direproduksi terus dalam kultur bangsa lebih dari 80 tahun sejak waktu itu. Sejarah mencatat, sejak 1927, istilah tersebut telah dipakai.

Biar Lebaran menjadi ajang saling memaafkan dan memaklumi. Sebentar kita tahan sejenak hestek #2019tanti presiden, #Diasibukkerja dan hestek-hestek sejenisnya. Kita ganti dengan hestek #lebaran. Saling memaafkan. Kita kosong-kosong ya!

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR