ADA rasa bahagia, ada rasa haru, ada pula rasa sedih kala kalimah takbir menggema dari pelantang masjid.

Rasa bungah itu terasa ketika kita lulus satu bulan penuh menjalankan berbagai ibadah selama Ramadan. Sementara itu, rasa haru datang saat kata maaf terlontar dari lisan kepada orang tua sambil menggenggam hangat telapak tangan mereka.



Namun, tidak bisa dimungkiri, terselip pula rasa sedih yang membuncah. Betapa tidak, Ramadan telah berlalu. Namun, meski bulan suci itu telah meninggalkan kita, setidaknya dia telah memberi bekal tarbiah kepada kita. 

Yang menjadi tugas kita ialah mengamalkan segala bentuk pelajaran yang kita ambil untuk diterapkan selama sebelas bulan ke depan.

Sebagai muslim yang berakal, kita pun harus senantiasa mengambil iktibar alias hikmah dari Idulfitri sebagai bahan renungan bagi kita.

Hikmah yang pertama ialah kesyukuran. Untuk mengucapkan syukur, harus diungkapkan dengan rasa gembira. Hikmah selanjutnya ialah keimanan. Kalimah takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid harus terus dilisankan sebagai bentuk penegasan iman kita.

Hikmah selanjutnya ialah kembali pada kefitrahan. Jika kita mengoptimalkan ibadah kita selama Ramadan, insya Allah kita termasuk golongan yang kembali kepada kesucian.

Selanjutnya, Idulfitri adalah waktunya peduli dengan orang lain dengan sedekah, infak, dan kewajiban berzakat. Maka itu, saat Idulfitri tiba, mereka yang tidak mampu turut merasakan kebahagiaan bersama mereka yang berada.

Selain itu, ada satu hal menarik yang saya rasakan saat Lebaran. Pada momen itu, saya gemar mencermati rentetan kata-kata indah dari kerabat dan handai tolan saat mereka mengirim pesan singkat.

Misalnya beberapa ucapan berikut. “Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1439 H. Mohon maaf lahir dan batin atas semua salah dan khilaf, baik dari lisan, perbuatan, pekerjaan yang kurang berkenan selama ini dari saya. Semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kita semua. Amin.”

Saya usap lagi smartphone dan mendapati untaian kalimat indah lainnya. “Saat kita bekerja, ada kata yang salah keluar. Saat kita berkumpul bersama, ada kata yang salah terlontar. Saat ini adalah saat saat yang tepat untuk diucapkan untuk memohon maaf atas ucapan yang salah, canda yang berlebihan, dan tingkah laku yang berlebihan. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. Kami sekeluarga mengucapkan selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.”

Masih banyak senarai kata yang dirangkai manis yang tak bisa saya tuliskan satu per satu. Namun, di tengah nuansa religius pada momen Idulfitri, ada pula pesan masuk yang berisi “Mas, tulisan sudah saya kirim ke email. Mohon diperiksa.” Tidak apa-apa, kehidupan memang kudu seimbang: dunia-akhirat.

 

EDITOR

Adi Sunaryo

TAGS


KOMENTAR