Damaskus (Lampost.co) -- Menteri Dalam Negeri Lebanon melaporkan keberhasilan intelijen kepolisian negara tersebut. Polisi  Lebanon memainkan peran utama dalam menggagalkan rencana dugaan untuk menjatuhkan pesawat penumpang Emirat yang terbang dari Sydney ke Abu Dhabi.

Nohad Machnouk berkata kepada wartawan, pada Senin 21 Agustus 2017, bahwa empat saudara keturunan Lebanon-Australia, termasuk satu orang yang ditahan di Lebanon, telah merencanakan untuk meledakkan pesawat tersebut. Peledaknya berupa bom tersembunyi di dalam boneka Barbie yang besar dan sebuah penggiling daging.



Dikatakan, bom tersebut tidak berhasil masuk ke pesawat karena tas mereka berbobot 7 kilogram di atas beban yang diizinkan oleh maskapai.

Machnouk menuturkan, bom tersebut sudah dikirim kembali ke rumah calon penyerang di Australia. Dia katakan penyerang berupaya membawa dua bahan peledak di pesawat jika salah satu dari itu tidak bekerja. Yang kedua diledakkan oleh salah satu saudara laki-laki yang seharusnya menjadi penyerang bunuh diri. Tidak segera jelas bagaimana pihak berwenang mengungkap dugaan rencana ini.

Otoritas Australia menyebutkan, akhir bulan lalu, sudah menggagalkan sebuah rencana teroris yang kredibel untuk meledakkan pesawat terbang dengan menyelundupkan perangkat ke pesawat. Sambil memberikan beberapa rincian, termasuk sifat ancaman atau maskapai penerbangan yang tepat.

Pada Selasa 22 Agustus 2017, Menteri Transportasi Australia, Darren Chester, yang paling bertanggung jawab atas bandara, enggan mengkonfirmasi pernyataan Mendagri Lebanon.

"Intinya kami bekerja sangat erat dengan mitra keamanan kami di seluruh dunia," kata Chester kepada Sky News.

"Ini adalah upaya tim dalam arti bahwa kita perlu berbagi informasi, karena ancaman terorisme melintasi batas-batas internasional," cetusnya seperti dikutip The Guardian, Selasa 22 Agustus 2017.

Maskapai penerbangan nasional Uni Emirat Arab mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan polisi Australia dalam penyelidikan. Tapi Etihad Airways, yang terkecil dari tiga angkutan jarak jauh yang terbang ke Australia, menolak untuk memastikan apakah mereka ditargetkan.

Bulan ini, polisi Australia mengatakan dua orang sudah didakwa melakukan pelanggaran terorisme di Australia terkait rencana dugaan buat menjatuhkan pesawat terbang. Namun tidak pasti apakah mereka dua dari empat bersaudara tersebut.

Empat pria Lebanon-Australia telah ditangkap oleh polisi. Petugas juga dilaporkan menyita penggiling daging, yang menurut para penyidik ??kemungkinan menjadi dasar sebuah bom. Salah satu dari keempatnya dibebaskan kemudian tanpa tuntutan.

Machnouk mengatakan dua saudara laki-laki, Khaled dan Mahmoud Khayyat, ditahan di Australia. Sementara yang lain, Tarek, adalah anggota senior kelompok Islamic State (ISIS) yang berada di kota Raqqa, Suriah utara.

Dia imbuhkan bahwa saudara keempat, Amer, seharusnya berada di dalam pesawat, bekerja untuk menjatuhkannya 20 menit setelah lepas landas. Namun dia ditangkap di Lebanon sesudah tiba pada pertengahan Juli dari Australia.

Machnouk mengungkap bahwa dugaan plot tersebut "digagalkan karena berbobot ekstra".

"Cabang intelijen mengikuti kasus ini dan menemukan bahwa Amer terlibat dalam aksi dan tampaknya dia harus melaksanakannya," katanya.

Mendagri Lebanon tersebut berkata, polisi Lebanon sudah melacak saudara laki-laki Tarek Khayyat sejak dia pindah ke Raqqa dan menjadi komandan ISIS. Menurut dia, Amer Khayyat melakukan perjalanan antara Australia dan Lebanon beberapa kali dengan alasan seperti datang untuk bertunangan atau menikah.

Dia katakan, sekitar 400 penumpang telah berada di pesawat, termasuk 120 warga Lebanon dan bahwa keempat bersaudara tersebut ingin menghukum UEA dan Australia karena menjadi bagian dari koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) melawan ISIS.

"Ketika empat saudara Lebanon di Australia memutuskan hendak meledakkan sebuah jet Emirat, ini berarti bahwa seluruh dunia harus bekerja sama untuk memerangi terorisme," kata Machnouk. 

"Koordinasi harus 24 jam sehari antara semua badan keamanan demi menghentikan serangan semacam itu," pungkasnya.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR