BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Selain mendampingi warga yang menjadi korban dugaan kekerasan, dan pelecehan seksual, akibat penggunaan pasar Griya Sukarame, LBH Bandar Lampung juga menyiapkan sejumlah bukti untuk memperkuat laporan tersebut.
Pengabdi Bantuan Hukum di LBH Bandar Lampung Kodri Ubaidillah mengatakan, pihaknya menyiapkan sejumlah file video berbentuk kaset atau softcopy, guna mengetahui kronologi perkara tersebut.

"Selain kondisi korban, keterangan saksi kita juga sudah siapkan video, bagaimana peristiwa tersebut terjadi, dan fakta adanya penganiayaan dan pelecehan, itu di video ada wajah pelaku, bahkan ada yang sudah diketahui identitasnya, mereka satpol PP," ujarnya kepada Lampost.co, Rabu (23/7/2018). 
Selain itu, LBH Bandar Lampung juga berencana melakukan pendampingan dan pelaporan terhadap korban lainnya, yang memang mengalami luka-luka, bahkan patah kaki.
"Kemaren ada 4 laporan (LP), nanti ada sekitar 4 korban lagi yang mau melapor, dan tadi kita somasi ke Pemkot Bandar Lampung serta bakal ajukan gugatan perdata," katanya.
Sementara Dirreskrimum Polda Lampung, Kombespol Bobby Marpaung, belum bisa dikonfirmasi soal penanganan perkara tersebut, dirinya tidak ada di kantor dan tak bisa dihubungi mesti ponselnya dalam keadaan aktif.
Kasubdit III Jatanras AKBP Ruli Andi Yunianto juga belum menerima adanya disposisi perkara tersebut. Hal senada juga diakui Kasubdit IV Renakta AKBP I Ketut Seregi. "Kami belum dapat arahan, dari atasan," katanya.
Sebelumnya, LBH Bandar Lampung mendampingi para warga dan korban luka-luka pada proses penggusuran pasar Griya Sukarame, pada (20/7/2018), melaporkan perbuatan tersebut ke Polda Lampung.
Total ada empat laporan yang dibuat, yakni laporan dengan nomor 
LP/1070/VISI/2018 SPKT 21 Juli 2018, dengan pelapor Kristina Tia Ayu (22) mahasiswa UBL dengan Terlapor, Eko Fernando Rizki yang diduga sebagai oknum Satpol PP Kota Bandar Lampung.
LP/1071/VISI/2018 SPKT 21 Juli 2018, dengan pelapor M. Riza Ramadhan (18) mahasiswa Unila yang diduga mengalami penganiayaan yang pelakunya masih dilidik.
Kemudian LP/1072/VISI/2018 SPKT 21 Juli 2018 dengan nama pelapor Beny Agung (23) dengan korban dugaan penganiayaan yang pelakunya masih di Lidik.
Kemudian LP/1073/VISI/2018 SPKT 21 Juli 2018 dengan pelapor Yulinia (36) seorang ibu rumah tangga yang menjadi korban penggusuran tersebut dengan terlapor masih di Lidik.
Wali Direktur Eksekutif LBH Bandar Lampung Chandra Muliawan mengatakan, dari tindakan sewenang-wenang tersebut, umlah korban yang mengalami kekerasan dan penganiayaan dari proses penggusuran tersebut berjumlah 23 orang, yang terdiri dari 8 korban mahasiswa, 7 perempuan dan anak, 8 warga pasar griya sukarame. Dari beberapa korban 1 mahasiswa mengalami cedera pada kaki kanan sehingga harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit Immanuel Bandar Lampung. Korban mengalamai luka-luka lebam dan pelecehan seksual. 

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR