LAMPUNG POST | lampost.co logo
2017 15 June
6994
Kategori Opini

Tags

LAMPUNG POST | Lapar Mata
Ilustrasi. bukalapak.com

Lapar Mata

PADA Ramadan seperti sekarang ini pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan pasar terkejut, pada waktu-waktu tertentu sangat padat pengunjung; dan semua ingin melahap isi pasar tersebut. Walaupun dominasi kaum ibu paling banyak, bukan berarti kaum bapak tidak. Justru kaum bapak sering ikut berdesak ke tengah medan perburuan guna mencari yang diinginkan, bukan yang dibutuhkan.
Suasana seperti ini seolah-olah menjadi ciri khas Ramadan, bahkan menjadi makin ramai menjelang Idulfitri. Di tengah hiruk pikuk itu kita sulit membedakan apakah yang belanja dan berjualan sedang melaksanakan ibadah puasa. Ada satu hal yang tampak luar biasa, yaitu lapar mata, yang makin menjadi-jadi. Perilaku massal seperti ini tampak sekali dari pengamatan kita selama ini.
Namun, sebenarnya lapar mata untuk di Ramadan itu masih manusiawi dan sangat lumrah, terutama bagi mereka yang baru pertama menjalankan ibadah puasa. Menjadi tidak lumrah jika lapar mata itu mengidap pada mereka yang sangat getol berkorupsi.
Tidak peduli apakah itu pejabat atau rakyat, birokrat atau wakil rakyat, jika sudah terkena penyakit lapar mata ini tidak dapat membedakan lagi mana miliknya dan milik orang lain. Harta sudah berjibun pun dirasa masih kurang, bahkan tidak segan-segan merampok yang bukan miliknya.
Pada akhir-akhir ini kita sering mendapatkan suguhan dari media massa, baik tulis maupun elektronik, yang mewartakan bagaimana makin sistematik dan rapinya perilaku lapar mata itu, bahkan bukan menjadi perilaku individual, sudah berubah bentuk menjadi perilaku berjemaah.
Keterangan atau gelar wajar tanpa yang dikeluarkan oleh lembaga yang selama ini ditakuti oleh penyelenggara negara pun, sudah bisa diatur maunya seperti apa bunyi yang dinginkan. Seolah resonansi bunyi pun sudah bisa dipesan seperti terompet Tahun Baru.
Bahkan ada yang lebih seru lagi rasa garam yang aslinya adalah asin, tetapi di tangan pelapar mata menjadi manis. Dan yang bisa mengubah ini tidak tanggung-tanggung, yaitu direktur, yang notebene sudah digajih puluhan juta rupiah per bulan oleh negara.
Menjadi pertanyaan adalah bagaimana gejala lapar mata yang satu ini bisa tumbuh sedemikian rupa, seolah raksasa yang bisa bertriwikrama sekehendak hati. Berdasarkan analisis perilaku sosial yang dibangun dari teori lapar sosial, ternyata manusia setelah berkelompok dan bersepakat untuk mencapai tujuan bersama. Oleh sebab itu, perasaan bersama yang muncul adalah bagaimana upaya untuk mencapai tujuan bersama itu dengan seefektif mungkin, terlepas jalan yang akan ditempuh itu merugikan orang lain atau tidak. Dengan kelemahan inilah muncul teori moral sosial yang diperlukan untuk memberikan rambu-rambu guna pencapaian tujuan sosial.

Berkolusi Memperkaya Diri

Kita menjadi paham jika sekelompok pengusaha berkumpul menyatu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, koorporasi ini menjadi raksasa untuk melibas siapa saja yang merintangi pencapaian tujuan mereka. Menjadi persoalan bila sekelompok pejabat, baik birokrat, politikus, maupun pejabat publik, menyatu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama; berperilaku yang tidak sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat. Untuk berkolusi bersama dalam memperkaya diri dengan dalih apa pun, ini menjadi pertanyaan besar bagi masyarakat.
Lapar mata bisa berakibat menjadi lapar panggung dan peristiwa itu tampaknya merebak di muka bumi negara tercita kita ini. Alih-alih memberi kesempatan pada generasi penerus untuk melanjutkan estafet generasi, justru kakek-kakek/nenek-nenek sibuk menciptakan panggung sandiwaranya karena lapar popularitas. Alih-alih memberikan tausiah yang berkesejukan, justru menjadi provokator untuk sesuatu hal sehingga terbuka ruang panggung untuk dapat menampilkan akting yang jika disimak tampak sekali kejanggalannya dan sering tidak lucu.
Era demokrasi seperti sekarang ini ternyata membawa lapar mata untuk segala hal dapat terjadi. Semula pahlawan, sayang ternyata pecundang, semula petualang, sayang ternyata penghalang. Perubahan dengan berpayung pada euforia demokrasi menjadi begitu cepat; apalagi jika masalahnya bersentuhan dengan pribadi atau kelompok; cepat sekali berubah menjadi reaktif yang protektif. Aturan seolah-olah hanya berlaku untuk orang lain; bukan untuk diri dan kelompoknya.
Hak bertanya boleh mereka ajukan kepada siapa saja, bahkan berlindung pada perundangan untuk melakukan ancaman dan atau penekanan. Walaupun tidak tepat, mereka upayakan untuk tepat, tetapi hak itu tidak untuk orang lain bertanya kepada mereka. Atas nama kekebalan institusi, perisai ini paling aman untuk dilakukan. Mereka dapat menggunakannya kapan saja, di mana saja, dan untuk apa saja. Jika dirasa itu mengancam kepentingan mereka, senjata itu mereka turunkan, dengan dalih koreksi, tetapi bukan untuk koreksi dirinya.
Lapar mata yang dapat berkembang menjadi lapar kuasa itu tampaknya akan terus berkembang secara liar ke semua sektor kehidupan manusia. Ini membuktikan betapa dahsyatnya labido manusia dan memang sudah dipesankan dalam ajaran suci agama bahwa manusia itu walaupun sudah diberi satu gunung emas, dia akan ingin mendapatkan dua, jika dua sudah terpenuhi dia ingin empat. Kerakusan seperti itu seharusnya pada Ramadan dapat dijadikan bulan introspeksi; ternyata justru bulan ibadah ini tidak menyentuh sama sekali. Bahkan terkesan tidak memengaruhi sama sekali dengan kelaparan akan kekuasaan.
Lapar kuasa juga dapat memakan korban dalam bentuk fisik, apakah itu reklamasi pantai, garam, flyover, helikopter, dan jalan tol, apa saja bisa dilibas. Kita bisa geleng kepala bagaimana bisa terjadi pejabat adu kuasa, atas nama kepentingan rakyat, semua bisa dilanggar dengan kuasa. Hasilnya lagi-lagi pembenaran teori Peter Berger tentang piramidal korban manusia menjadi kenyataan. Rakyat kecillah yang menjadi korban segalanya dan harus menanggung beban risiko segalanya.
Belum lagi lapar kuasa pun bisa memecahkan perkongsian yang semula disepakati waktu mencalon bersama, tetapi karena lapar mata yang berubah menjadi lapar kuasa, kesepakatan kebersamaan pun bisa dikorbankan dan ironisnya ini diumbar di ranah publik. Alhasil masyarakat bisa menilai memimpin satu orang saja tidak mampu, apalagi mau memimpin masyarakat luas.
Masyarakat seolah-olah diberi tontonan gratis tentang bagaimana sesungguhnya laparnya serigala belum selapar manusia, padahal kita semua tahu bahwa harkat manusia jauh di atas serigala. Kelaparan akan kekuasaan ini juga diplesetkan oleh banyak pihak dengan jargon beri aku segenggam kekuasaan, itu jauh lebih berharga dari pada sejuta kebenaran. Jika ini yang terjadi, kita tinggal menunggu kerusakan masif pada masyarakat kita.
Di mana-mana kita melihat sisi lain sebagai dampak pengiring dari perkembangan demokrasi adalah munculnya lapar kuasa. Ini tampaknya merupakan cacat bawaan dari bayi yang bernama demokrasi. Oleh karena itu, kita diharuskan berhati-hati dalam menyikapi semua implikasi negatif ini. Kita harus menyiapkan instrumen sosial guna meminimalisasi dampak pengiring ini sehingga sistem tadi tidak mencederai rakyat.
Jargon yang mengatakan mau pensiun jadi rakyat adalah lambang simbolis dari keputusasaan menghadapi sistem yang ada. Atau sikap wani piro adalah bahasa simbol yang dimunculkan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari sumbangan suara pada waktu pilihan. Akhirnya bahasa-bahasa simbol seperti ini menjadi oase bagi rakyat jelata dalam menghadapi lapar mata yang bertiwikrama menjadi lapar kuasa, yang menghinggapi sebagian dari para petinggi hasil pilihannya.
Pada bulan suci ini semoga kita mampu melakukan pengendalian diri untuk tidak lapar mata dalam arti yang sebenarnya maupun simbolik; agar tidak bertiwikrama menjadi lapar kuasa. Kita semua tidak mengentahui apakah puasa ini merupakan puasa terakhir pada diri kita. Tidak ada yang mampu menjamin apakah kita masih diberi hak untuk melaksanakan puasa di tahun depan. Oleh karena itu, tidaklah salah jika kita mengatakannya jangan-jangan ini merupakan puasa kita yang terakhir di bumi ini.
Semoga kita semua mampu memberikan yang terbaik kepada negeri ini, minimal kontribusi kita adalah doa agar negeri ini tetap utuh dan sejahtera rakyatnya. Sebab, salah satu di antaranya yang dapat mengubah nasib adalah doa, hanya kapan dan di mana doa itu dikabulkan itu adalah wilayah Sang Maha Pencipta. Selamat melaksanakan saum Ramadan bagi yang melaksanakannya. n

LAMPUNG POST

BAGIKAN

TRANSLATE

REKOMENDASI

  • LAMPUNG POST
  • LAMPUNG POST | Radio Sai 100 FM
  • LAMPUNG POST | Lampost Publishing
  • LAMPUNG POST | Event Organizer
  • LAMPUNG POST | Lampung Post Education Center
  • LAMPUNG POST | Media Indonesia
  • LAMPUNG POST | Metro Tv