BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Permasalahan kekerasan perempuan dan anak merupakan isu yang penting dan sampai saat ini belum terselesaikan. Pemerintah dan partisipasi masyarakat berperan penting untuk sama-sama menyelesaikan persoalan ini.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung, Bayana, yang diwakili oleh Kepala Bidang Data dan Informasi Gender dan Anak, Hermansyah Sasoleh, mengatakan pada Mei 2019 merilis pengalaman hidup anak bahwa dua dari tiga orang pernah mengalami kekerasan seksual baik fisik maupun emosional.



"Kekerasan pada perempuan dan anak ini memasuki fase darurat," kata Hermansyah saat membuka Sosialisasi Partisipasi Media dalam Pemberitaan yang Responsif Gender dan Ramah Anak di Bandar Lampung, Kamis 22 Agustus 2019.

Ia mengatakan data jumlah korban berdasarkan jenis kekerasan yang dialami ada 154 korban seksual, 75 korban psikis, 75 korban fisik, 15 korban penelantaran, 3 korban trafficking, 1 korban eksploitasi, dan 11 korban lainnya.

"Jumlah korban 270 dan jumlah jenis kekerasan 335. Artinya sebagian besar korban mengalami lebih dari 1 jenis kekerasan," katanya.

Di Provinsi Lampung ada 4.042.456 jiwa atau 48,76% penduduk adalah perempuan dan ada 2.589.581 jiwa atau 31,23% penduduk adalah usia anak yang rawan mengalami kekerasan. Ia mengatakan persoalan pemicu yang paling mendasar banyak latar belakangnya seperti faktor ekonomi, kemiskinan, pendidikan dan sebagainya.

"Maka dari itu kita fokus pencegahan dari pada penanganan. Kita juga terus melakukan sosialisasi dan penyuluhan di masyarakat. Kita punya program-program dan mengandeng semua pihak," katanya.

Dalam acara tersebut juga digelar diskusi dengan narasumber dari Saksi Ahli Dewan Pers Lampung, Oyos Saroyos dan LKBN Antara Biro Lampung, Budiman Santoro yang mengupas materi mengenai pedoman etik dan standar pemeberitaan ramah perempuam anak dan HAM.

EDITOR

Winarko

TAGS


KOMENTAR