BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)-- Amerendi (42) dan Nuryono (42),
warga Muara Enim, Sumatera Selatan, yang ditangkap petugas di
Jalan Teuku Umar, dekat Gerai BNI PT KAI Divre IV Tanjungkarang,
Kamis (25/1) siang, tenyata merupakan penipu dengan modus menjual
sejenis benda jimat, yang diklaim memiliki kemampuan pengasih.
Kedua pelaku yang awalnya diamankan oleh personil Satlantas
Polresta Bandar Lampung itu, sempat diduga sebagai pelaku hipnosis.

Kasatreksrim Polresta Bandar Lampung, Komisaris Harto Agung
Cahyono mengatakan, kedua pelaku dalam memperdaya korbannya
memiliki masing-masing peran. Amerendi mengelabui korban dengan
modus mengaku sebagai personel Satreksrim Polresta Bandar Lampung,
yang kemudian seolah-olah mengerti bahwa benda rajahan yang mereka
gunakan untuk memperdaya pelaku memiliki kemampuan seperti
penglaris. Selanjutnya ia berpura-pura tertarik dan memberikan
sugesti bahwa barang tersebut bernilai ratusan juta rupiah.



Kemudian, pelaku lainnya yakni Nuryono yang menjual rajahan
(jimat) berbentuk tabung kecil berisi huruf aksara Turki. Mereka
menuju Bandar Lampung menaiki bus AKAP, kemudian langsung pulang
kembali ke Muara Enim, ketika selesai bertransaksi.

"Modusnya menawarkan barang rajahan dengan ratusan juta rupiah,
modusnya satu menawarkan, satu meyakinkan para korban, sehingga
barang tanpa nilai nominal, tersebut bisa dibeli warga hingga
puluhan juta rupiah," ujarnya kepada Lampost.co di Mapolresta
Bandar Lampung, Jumat (26/1/2018).

Sebelumnya pelaku berhasil memperdaya Neneng Ida Wati, seorang
guru di SMAN 7, dengan dalih rajahan tersebut memberikan efek
pengasih. Lantas Pelaku sempat menawarkan barang tersebut seharga
Rp108 juta, namun korban baru bisa menarik uang di Atm Sebesar Rp8
juta, yang kemudian diambil pelaku sebagai pembayaran jima
tersebut, dan sekitar Rp100 juta akan diambil lagi di ATM untuk
dibayarkan.

"Mereka pun membeli rajahan tersebut di Muara Enim dengan harga
sekitar Rp15.000, tapi pelaku juga tidak mengetahui fungsi dan
efek dari barang itu, mereka nipulah," kata Mantan Kapolsek
Tanjungkarang Barat itu. 

Sementara itu, Amerendi mengaku lantaran sering ribut dengan
istirnya,  sehingga ia tidak fokus bekerja di kampung halamannya
sebagai petani karet. Karena itu ia nekat melakukan penipuan di
Kota Bandar Lampung dengan menjual jimat tersebut bersama
rekannya. Ia membenarkan jima tersebut dibelinya hanya dengan
Rp15.000 rupiah. Makanya ia nekat melakukan penipuan di Kota Tapis
Berseri.
"Ya saya jualnya ratusan juta karena orang kan peracaya aja. Kalau
saya ngaku polisi terus saya coba pancing, supaya tertarik, kalau
kawan saya yang jualnya, agak sedikit intimidasi juga," katanya.

Ia bahkan berdalih sempat ditipu oleh korbannya usai bertransaksi
di Jalan Gatot Subroto, dekat rumah dinas Wali kota Bandar
Lampung. Menurutnya, sang korban pada saat itu berjanji akan
membeli rajahan tersebut seharga Rp108 juta, namun korban baru
bisa memberikan uang sebesar Rp800 ribu.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR