UNTUK kesekian kalinya pengiriman kayu hasil pembalakan liar terungkap. Kali ini Polres Lampung Tengah berhasil menggagalkan perampasan kayu di Kampung Sendangretno, Kecamatan Sendangagung dan Payungmakmur, Kecamatan Pubian, yang diduga berasal dari Register 22.
Polisi mengamankan tiga tersangka dan puluhan gelondong kayu sonokeling yang bernilai ratusan juta rupiah di dua lokasi pada Rabu (21/2). Kayu tersebut dibawa ke luar hutan menggunakan truk oleh para tersangka.
Para tersangka yang diringkus merupakan eksekutor di lapangan yang berperan sebagai sopir, kernet, dan tenaga teknis. Setelah dua pekan  berlalu, polisi tidak kunjung mengungkap dalang pembalakan liar tersebut.
Orang yang mensponsori inilah yang harus diburu karena mereka lebih bertanggung jawab dibanding dengan pelaku di lapangan.
Polres mengaku sudah mengantongi nama-nama dalang pembalakan liar di Register 22. Polisi juga sudah membidik penadah hasil pembalakan liar dan menegaskan tidak akan memberi ampun para pelaku. Namun, publik sangat menantikan kinerja aparatur keamanan bisa memberikan perkembangan yang lebih menjanjikan.
Desakan masyarakat sekitar register agar kasus ini diusut tuntas harus menjadi pendorong agar polisi segera menangkap semua pihak yang terlibat langsung dan tidak langsung atas perampasan aset hutan. Jangan sampai polisi terkesan lamban dan tidak serius mengungkap kasus kejahatan lingkungan.
Selain di Lamteng, kasus pembalakan liar juga terungkap oleh anggota polisi hutan di Jalan Pramuka, Rajabasa, Bandar Lampung, Selasa (20/2). Ada tiga orang yang diamankan dalam penyergapan tersebut. Mereka diduga membawa kayu dari Register 19 Tahura Wan Abdul Rachman, KPH Pematangneba, Kotaagung Utara, dan sekitar Bendungan Batutegi.
Sebelumnya Dinas Kehutanan Lampung menangkap pelaku pembalakan di kawasan hutan lindung, Jumat (26/1). Dishut mengamankan dua orang dan satu unit truk pengangkut 21 batang kayu sonokeling di Pardasuka, Pringsewu. Sehari sebelumnya, empat pelaku penebangan liar di Register 28 Pematangneba, Resor Way Lima, juga ditangkap.
Deretan kasus pembalakan liar menunjukkan bahwa Lampung menjadi surga bagi para pelaku. Ada kemungkinan masih banyak kasus serupa yang belum terungkap. Jika tidak ada upaya serius, kelak kita akan menyaksikan kerusakan serius hutan di Lampung dan pada akhirnya bisa menyebabkan bencana alam.
Penegak hukum harus menempatkan kasus pembalakan liar sebagai kejahatan luar biasa yang dampaknya bisa membahayakan lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, para pelaku harus dijatuhi sanksi maksimal sehingga memberikan efek jera dengan menggunakan UU No.18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Upaya lain adalah dengan menambah sumber daya manusia dalam mengawasi hutan. Selama ini keterbatasan polisi hutan menjadi kendala dalam menjaga sumber daya alam di register.


 



 

EDITOR

Iyar Jarkasih

TAGS


KOMENTAR