LIWA (Lampost.co)--Buku merupakan jendela dunia. Hal itu mulai dipahami sejumlah anak-anak di Lammpung Barat yang mulai antusias yang menyambangi Lamban Baca.

Sejak dicanangkan sebagai Kabupaten Literasi oleh Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus beberapa bulan lalu, masyarakat di sejumlah pekon (desa) di kabupaten Berjuluk Bumi sSkala Bekhak tersebut  ikut andil memberikan dukungan dengan menjadikan rumah warga di tingkat pemangku sebagai lokasi Lamban (rumah) Baca untuk memberi akses kepada anak-anak, siswa dan pemuda mendapatkan informasi.



Bahkan di beberapa pemangku, saat ini Lamban baca menjadi tempat berkumpulnya anak-anak untuk bermain sambil belajar dan membaca kumpulan buku yang ada di sana.

Relawan literasi Lampung Barat, Donna Sorenti Moza usai melakukan monitoring dan penyaluran buku di sejumlah Lamban baca yang ada di sejumlah pemangku pekon padang tambak kecamatan way tenong, Jumat (31/8/2018), mengatakan jika sejauh ini program literasi yang sumber pendanaannya bersipat gotong royong kemudian buku-buku yang ada di sejumlah Lamban Baca merupakan sumbangan dari sejumlah donatur tersebut mulai diminati warga terutama para siswa yang menjadikan Lamban baca sebagai tempat berkumpul untuk belajar dan membaca dan mencari informasi. 

Sejumlah anak-anak di pekon Padangtambak kecamatan Way Tenong memanfaatkan waktu  usai pulang sekolah bermain sambil membaca buku di Lamban baca. (Foto:Lampost/Aripsah)

"Alahmadullilah saat ini beberapa Lamban baca di pemangku-pemangku mulai dikunjungi anak anak sekolah. Walaupun  kita tidak bisa mengklaim tingkat keberhasilan  karena tentu ada indikator, tetapi setidaknya saat ini beberapa lamban baca jadi tempat anak-anak bermain dan meminjam buku," kata Donna.

Saat ini setidaknya terdapat lebih dari 15 Lamban baca yang tersebar di sejumlah pemangku di kecamatan Way tTnong yang masing-masing di dukung sekitar 150 judul buku dengan berbagai jenis ilmu yang bisa di manfaatkan warga setempat untuk membaca dan menggali informasi.

"Berbagai judul buku, ada buku sekolah, buku tentang informasi bercocok tanam, beternak, ber wirausaha dan banyak lagi judul buku," jelas Donna. Setiap dua bulan buku yang ada ditukar antarLamban, sehingga tidak monoton.

Tidak hanya itu, dalam memilih lokasi lamban baca di tingkat pemangku  relawan literasi kata Donna sebelumnya telah bekerja sama dengan  peratin (kepala desa) dan mendapat dukungan masyarakat di tingkat pemangku.

EDITOR

Sri Agustina

TAGS


KOMENTAR