BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Musliadi (41), terdakwa kepemilikan barang haram jenis daun ganja sebanyak 266 kg, terisak menangis saat menyampaikan pembelaan di hadapan Hakim Ketua Hasmy di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Bandar Lampung, Jumat (13/10/2017).
Terdakwa kasus penyelundupan ganja ini memohon kepada majelis hakim agar hukuman seumur hidupnya dikurangi. Permohonannya tersebut dituangkan dalam selembar kertas, yang kemudian terdakwa bacakan dengan nada keras bercampur tangisan. "Izinkan saya untuk menyampaikan permohonan ini majelis hakim yang mulia. Di hadapan majelis saya sampaikan permohonan maaf atas kesalahan yang saya lakukan. Saya tidak akan mengulangi kesalahan serupa lagi majelis," kata terdakwa sambil menangis.
Musliadi juga mengungkapkan saat ini dia merupakan tulang punggung keluarganya. Dia katakan di hadapan majelis, jika dia memiliki tanggungan istri dan anak. "Sekiranya majelis hakim dapat mempertimbangkan hukuman untuk saya," kata terdakwa lagi.
Tarmizzi, yang merupakan kuasa hukum dari terdakwa, juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, tuntutan yang dijatuhkan jaksa kepada terdakwa Musliadi tidak tepat karena Musliadi tidak tahu kalau barang yang dibawa di mobil yang ia kendarai tersebut adalah ganja.
Menurut Tarmizzi, saat rekannya (dalam buronan) mengajak terdakwa untuk mengantarkan barang bukanlah ganja seperti yang dimaksudkan melainkan beras, "Terdakwa ini tahunya barang yang dia bawa adalah beras. Dia enggak tahu kalau itu ganja. Makanya saat disuruh lari dia bingung karena dia tidak tahu kesalahannya apa," kata Tarmizzi usai sidang.
Selain itu, menurutnya, Musliadi juga hanya sebagai kernet sopir yang dibayar dengan upah Rp150 ribu per harinya. "Bayaran itu kan normal untuk seorang kernet sopir. Musliadi juga mengatakan dengan jelas dan baik dalam berita acara pemeriksaan ataupun tuntutan bahwa dia tidak pernah tahu isi mobil yang dikendarainya adalah ganja," ujarnya.
Pada akhir persidangan, Jaksa Oktavia Mustika tetap tidak mau mengubah tuntutannya. "Kami berpendapat tetap pada tuntutan," kata Jaksa.
Kemudian, majelis hakim memutuskan menutup persidangan dan akan melanjutkannya lagi pada agenda putusan pekan depan. "Dua minggu lagi, pada 26 Oktober 2017 kami akan kembali jalani sidang putusannya," ujar Hakim Ketua. 

loading...

EDITOR

Isnovan Djamaludin

TAGS


KOMENTAR